Sudahkah Kita Setia?

Renungan Selasa 22 November 2022  

Bacaan: Why. 14:14-20Mzm. 96:10,11-12,13Luk. 21:5-11

Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat, Janganlah kamu mengikuti mereka. ( Lukas 21:8 )

Di awal perikop, beberapa orang berbicara tentang keindahan bait Allah dan bangunan yang dihiasi dengan batu yang indah dan berbagai barang persembahan. Bait suci merupakan pusat kehidupan keagamaan mereka. Bait suci adalah lambang kehadiran Allah. Tetapi ketika Yesus berkata bahwa saatnya akan tiba, satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu lain, dapat kita bayangkan bagaimana reaksi umat saat itu.

Ketika orang membanggakan dan mengagumi keindahan Bait Allah sebagai sebuah bangunan fisik, Yesus justru mengingatkan mereka akan keruntuhannya. Yesus menghubungkan keruntuhan bait Allah itu dengan akhir zaman. Bahwa akan terjadi bencana gempa bumi, peperangan dan pemberontakan, penyakit dan kelaparan serta tanda tanda dasyat dari langit. Yesus  lebih lanjut mengingatkan bahwa semua harus terjadi lebih dulu dan kita diminta untuk tidak panik dan terkejut.

Dalam arti rohani, bait suci adalah tubuh kita sendiri. bait suci lambang kehadiran Allah, maka ketika manusia tidak dikuasai Allah, itu berarti kematian, akhir kehidupan manusia, Karena itu kita diajak untuk waspada supaya jangan disesatkan. Maka janganlah menghancurkan diri kita karena tubuh kita adalah Bait Suci Allah. Kita justru mengundang Allah berdiam dalam diri kita. Dalam waspada itu, biarlah Allah menguasai kita. Menghadapi semuanya itu, sebagai orang beriman harus memiliki keteguhan dan ketegaran iman yang setia kepada Tuhan. Memanggul salib adalah harga yang harus dibayar selain berani bersaksi tentang Tuhan Yesus. Penderitaan orang beriman yang setia terus dialami dari zaman ke zaman, seperti dilarang beribadah, gereja ditutup, tidak boleh membangun gereja, tidak bisa naik jabatan dan sulit mendapatkan pekerjaan karena iman kita. Walaupun berat, kiranya kita tidak goyah, tetap setia, karena Dia selalu menyertai dan kita pun selalu memiliki pengharapan iman.

Bapa, mampukan kami untuk tetap setia memanggul salib, berilah kami pundak yang kuat untuk memikulnya dan senantiasa dimampukan berjalan bersama-Mu. Amin. (BDH)

×