Kesulitan Tidak Menunda Kebaikan

Renungan Senin 21 November 2022

Bacaan: Why. 14:1-3,4b-5Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6Luk. 21:1-4

“… tetapi janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya”. (Lukas 21:4b)

Pada bagian ini, Yesus menggunakan ironi untuk menggambarkan situasi yang menyedihkan sekaligus memalukan. Pada bacaan sebelumnya, kita sudah melihat ahli-ahli Taurat memperlakukan para janda secara tidak adil (Lukas 20:47), walaupun sebenarnya Allah memerintahkan mereka untuk memperhatikan janda-janda itu.

Ayat di atas bercerita tentang seorang janda yang memberi persembahan di Bait Suci. Jumlah pemberiannya memang sedikit, tetapi secara persentase ia memberikan lebih banyak daripada orang kaya. Hal ini ironis sekaligus membuat Yesus begitu kagum. Bahkan Ia memuji persembahan janda tersebut, bukan karena jumlahnya, tetapi karena ketulusannya. Pelajaran yang bisa kita ambil bahwa memberi walaupun sedang dalam kondisi yang lemah sangat menyenangkan Tuhan. Kesulitan atau kemiskinan bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak memberi dan menjadi orang yang pelit. Justru memberi dalam kekurangan merupakan perwujudan kasih yang besar.

Tuhan ingin agar kita meneladani si janda yang memberi tanpa dipengaruhi oleh kondisi dan kesulitan. Mungkin ini terlihat bodoh bagi dunia tetapi sabda Tuhan ini menunjukkan betapa Yesus melihat, menghargai dan mengagumi tindakan seperti itu. Artinya pengalaman serba kurang dan kesulitan tidak boleh menyurutkan atau menunda perbuatan baik seseorang.

Sekarang kita hidup dalam budaya dengan gaya hidup mewah. Keadaan ini membentuk kita menjadi egois sehingga sulit untuk belajar memberi. Kalau pun memikirkan orang lain, itu pun demi keuntungan sendiri. Ini sungguh ironis dan menyedihkan. Seharusnya kehidupan seorang Kristen adalah meneladani janda yang menjungkirbalikkan sistem nilai dunia yang tanpa kasih, dan mengasihi sekalipun dalam kondisi sulit. Tuhan memberkati. (IMH)

×