Berseru kepada Yesus

Renungan Senin 14 November 2022

Bacaan: Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4b; Luk. 18:35-43

Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” (Lukas 18:38)

Seorang buta berseru kepada Yesus dalam perjalanan-Nya ke Yerikho, ia tidak peduli sekalipun orang banyak menegurnya dan menyuruhnya diam, kesungguhan hatinya membuat seruannya makin keras dan menghentikan Yesus. Ia memohon agar dapat melihat dan Yesus  membuatnya melihat, ia mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah, seluruh rakyat yang melihat hal itu memuji-muji Allah.

Berseru dan memohon kepada Yesus tidak akan pernah sia-sia karena Dia adalah sumber kekuatan dan pengharapan di saat kita lemah dan putus asa. Bersama Dia selalu ada jalan keluar dan pengharapan. Namun kita sering enggan untuk berseru dan memohon pada-Nya karena kita menggunakan akal dan kekuatan sendiri yang terbatas yang berujung pada kekecewaan.

Belajar dari pengalaman orang buta yang tidak putus asa dalam berseru dan memohon untuk kesembuhannya. Seberapa tekun dan keras kita berseru kepada Yesus? Apakah seperti orang buta yang tetap berseru sekalipun orang banyak menyuruh diam? Atau kita diam seperti keinginan orang banyak atau kita tetap berseru dalam keheningan? Saya merasa bahwa dalam banyak hal saya masih harus belajar tekun dan berseru dengan sungguh-sungguh kepada Yesus karena sering kali saya justru diam dalam kerumunan orang banyak bahkan sebelum mereka menyuruh saya diam. Bagaimana saya bisa memuliakan Yesus dan membuat orang banyak memuji-muji-Nya bila saya diam saja?

Yesus, terima kasih untuk keselamatan yang telah kuterima dan mohon ampun atas keheningan seruanku yang seringkali kusangka cukup untuk membawa-Mu dalam kehidupanku di tengah-tengah orang banyak. Ajarilah aku lebih berani berseru dengan keras sampai orang-orang menyaksikan kebaikan-Mu dalam kehidupanku dan memuliakan-Mu, Allah yang hidup dan berkuasa, sepanjang segala abad. Amin (MII)

×