Apa yang kita cari di Dunia ini?

Renungan Kamis 17 November 2022

Bacaan: Why. 5:1-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk. 19:41-44;

kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. (Lukas 19:42)

Ayat sebelumnya di Lukas 19:41, “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya.”  Yesus sangat sedih melihat penduduk Yerusalem, yang dilanjutkan dengan ayat 42 kata-Nya: ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”

Bapak/Ibu yang terkasih hari ini gereja juga memperingati Santa Elisabet dari Hungaria. Santa Elisabet dari Hungaria ini meskipun seorang Putri, anak Raja dari Hungaria tetapi cinta kasihnya yang besar kepada orang-orang miskin dan menderita, sehingga oleh Paus Leo XII, dia dijadikan orang kudus pelindung bagi karya amal Gereja Katolik. Sebagai seorang Putri Raja, Elizabet memilih hidup pertobatan dan menjadi biarawati meskipun sebenarnya dengan mudah ia dapat menikmati kehidupan santai dan mewah. Pilihan hidupnya ini membuat Santa Elisabet dicintai oleh rakyat biasa di seluruh Eropa.

Kisah tentang Elizabet dan ayat dari Lukas 19:42 ini semoga mengingatkan kepada kita semua apa yang selama ini kita cari di kehidupan di dunia ini. Apakah kita dalam hidup kita saat ini mencari kekayaan, kesejahteraan, atau kesuksesan dalam hal-hal duniawi, sehingga kita lupa apa tujuan akhir hidup kita? Kita buta akan apa yang hendak kita capai. Kita lupa akan tujuan akhir hidup kita dan silau dengan apa yang ada di dunia ini, sampai-sampai Yesus menangis ketika melihat kota Yerusalem.

Bapak/Ibu dengan merenungkan bahwa kita ingin kehidupan yang bahagia bersama Bapa di surga adalah tujuan akhir hidup kita, kita hari ini merasa dikuatkan bahwa dalam hidup di dunia ini, kekayaan, kesuksesan dan kemewahan bukanlah tujuan akhir hidup kita. Kita diingatkan ketika kita sedang hidup di dunia ini, mungkin saat ini meskipun kita menderita, saat ini kesulitan ekonomi yang kita hadapi tidak mudah. Kita bisa melihat tujuan kita bukanlah di dunia ini. Tetapi yang penting kita memiliki damai sejahtera di hati kita.

Seperti dalam pengajaran Yesus tentang Sabda Bahagia dikatakan: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Miskin, di sini bukanlah miskin dalam arti materi. Banyak juga orang kaya tetapi tetap tidak pernah merasa cukup. Sabda ini mengingatkan saya tidak peduli saya dalam kondisi apapun, saya bukanlah pemilik di dunia ini. Semua yang ada di dunia ini adalah titipan dari Tuhan. Meskipun kita memiliki rumah dengan Sertifikat Hak Milik (SHM), ketika kita meninggal, sertifikat itu juga tidak bisa kita bawa dalam kehidupan selanjutnya. Semoga dengan permenungan hari ini dan contoh nyata dari Santa Elisabet dari Hungaria akan lebih menguatkan kita dan membuat kita mengetahui arah dan tujuan hidup kita.

Doa

Allah Bapa yang kukasihi, terima kasih hari ini Engkau mengingatkan kami melalui sabda-MU, dan melalui teladan Santa Elisabet dari Hungaria. Kami mohon mampukan kami meneladan Santa Elisabet untuk berani mencari harta surgawi damai sejahtera yang sesungguhnya. Allah Roh Kudus bantulah kami agar mampu melihat apa yang benar sehingga sesuai dengan tujuan hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu. Allah Putra bantulah kami untuk selalu mendengar Sabda-Mu lebih baik agar kami selalu berada dalam jalan-Mu. Kami mohon ya Bapa untuk semua doa dan pengharapan kami, yang kami panjatkan ini, semoga Engkau terima di hadirat-Mu dengan pengantaraan Putra-Mu yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami dalam persatuan dengan Roh Kudus yang membimbing hidup kami. Amin (AlX)

×