Perintah Saling Mengasihi

Renungan Kamis 19 Mei 2022 Hari Biasa Pekan V Paskah

Bacaan: Kis. 15:7-21; Mzm. 96:1-2a,2b-3,10; Yoh. 15:9-11

Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. (Yohanes 15:10)

Pengalaman saya, dan mungkin bagi banyak orang pada awal kehidupan keluarga saling mengasihi, cita-cita mulia dan indah dari setiap keluarga ketika membangun suatu keluarga. Bersama istri/suami, memiliki dan membesarkan anak-anak, bekerja dan saling membantu menghidupi keluarga tercinta. Sebagai orang yang percaya, menyadari harus tetap hidup dalam suasana kasih Kristus di dalam keluarga. Kenyataan perjalanan Kehidupan keluarga.

Kenyataan perjalanan Kehidupan keluarga

Tetapi apa yang terjadi, dengan berjalannya waktu, setiap hari tersingkap karakter; kebiasaan-kebiasaan masing-masing yang amat berbeda. Pergeseran pandangan mulai terjadi karena perbedaan-perbedaan yang tadinya dirasa sebagai daya tarik pasangannya, terlebih bila ada orang ketiga di dalam rumah tangga kecil itu, pembagian perhatian dari salah satu menimbulkan ketidaksenangan karena tidak dinomorsatukan, kecemburuan awal timbul, bergesernya kondisi untuk saling mengasihi sering terjadi, ditambah dengan masalah ekonomi, tuntutan/target kebutuhan hidup dan status yang merenggut perhatian yang jadi hal utama masing-masing dan terus menjadi makin memburuknya relasi suami istri, hingga sirnanya cita-cita awal yang diidamkan. Air mata; amarah; sakit hati; umpatan, saling tidak sapa tegur, bahkan menghindar mencari pelarian dengan kesenangan pribadi masing-masing yang tampak positif sampai dengan cara hidup yang tidak terpuji.

Anak-anak menjadi korban, kegelapan mulai meliputi suasana rumah tangga itu. Cita-cita mulia dan indah saling mengasihi, tidak bertahan. Karena arti dari arti hidup saling mengasihi kurang dimengerti, untuk dibina dalam membentuk keluarga, maka tidak bertahanlah arti saling mengasihi.

Arti saling mengasihi  

Yesus mengajar kita orang percaya yang telah menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Dalam Yohanes 15:9-11

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

Untuk bertumbuh dengan baik, suatu keluarga, bersatu bagaikan tanaman atau pohon anggur yang ingin berbuah manis dan tampak indah. Tetapi kenyataan yang tidak disadari setiap ranting sifat-sifat/karakter keegoisan harus dipotong, untuk penyesuaian diri dan dapat saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangannya. Jika tidak dipotong, tidak dapat berbuah dengan baik tanpa pemangkasan. Demikian pohon keluarga pun makin hari makin kering dan gersang.

Yesus mengajar bahwa Bapa-Nya pengusahanya, dan setiap kita bersama keluarga harus tinggallah di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita. Dan kita juga dipangkas bagaikan setiap ranting yang gersang dengan karakter keegoisan, kepahitan, kemarahan, luka hati, kebencian, dan lain sebagainya, agar proses kehidupan kita dapat berubah. Berbuah subur dan berlimpah adalah kehidupan yang dikuatkan setelah melewati proses kadang melalui kesulitan; rasa tidak nyaman, bahkan kesengsaraan hidup yang menyiksa.

Merubah pola pikir (paradigma) sebagai tragedi dalam rumah tangga, perlu adanya pemahaman atas arti kasih, kasih yang berkorban; bisa jadi merupakan berkat dan kesempatan-kesempatan pemulihan, pertobatan, perubahan dari setiap pribadi suami dan istri yang telah Allah satukan, dan pilih untuk menyatakan kasih dan anugerah-Nya dalam keluarga, anak-anak bahkan orang ketiga dalam rumah tangga tersebut.

Apakah kita dan keluarga sedang dipangkas hari ini?

Apakah sesuatu yang paling kita kasihi telah direnggut dari kita? Apakah seluruh cita-cita utama akan hidup telah pudar dan berubah arah?

Kita, sebagai anak-anak Allah harus belajar dapat melihat tujuan dari masalah yang ada dari sudut kebijaksanaan dan kekekalan Allah, dapat memandang ujian dan semua masalah yang terjadi, semua dalam hubungannya dengan berkat kehidupan kita Yesus yang menebus dosa dan kelemahan kita, dan kita mau terus percaya, dan mengimani, berpengharapan, dengan kasih yang akan dapat mengusap airmata dan memuji Tuhan bersama untuk segala sesuatu yang terjadi. Yesus mengatakan bahwa hal ini terjadi dengan menaati perintah-perintah-Nya. (MTWN)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20