Kasih Terbesar

Renungan Jumat 20 Mei 2022

Bacaan: Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (Yohanes 15:13)

Ketika menghadapi masalah, respons masing-masing orang berbeda. Ada yang tetap semangat dan terus berusaha, tetapi tidak sedikit orang yang mudah sekali menyerah pada keadaan karena merasa sudah tidak kuat lagi menanggung beban yang ada. Sesungguhnya jika kita mau berusaha dan meminta pertolongan kepada Tuhan, sesulit apa pun keadaan dan seberat apa pun masalahnya, pasti ada jalan keluar yang terbaik.

Sahabat, Tuhan menyebut anak-anak-Nya sebagai sahabat, sebab Ia ingin selalu dekat dengan kita;  Dia ingin berbicara dari hati ke hati dengan kita, ingin bergaul karib dengan kita.

Bahkan Ia memberikan nyawa-Nya untuk kita. Kalau nyawa-Nya saja rela Dia berikan, maka dalam segala perkara Dia pasti peduli dan tidak akan pernah mengabaikan kita. Inilah yang disebut hidup yang berkelimpahan bersama dengan Tuhan, yaitu bahwa kita mencari Tuhan dan firman-Nya pada saat-saat kesusahan dan Ia akan menyelamatkan kita dari segala situasi dalam hidup kita.

Ketika Daud menghadapi masalah ia tetap membangun cara hidup sebagaimana yang biasa dilakukannya setiap hari, yaitu bersekutu dan memuji Tuhan sehingga Roh Tuhan memampukan ia untuk tetap bersyukur dan berharap kepada kemuliaan, kasih setia, dan kebaikan Tuhan (Mzm. 57:8-12). Inilah teladan yang menjadi kunci kemenangan Daud.

Injil hari ini mengajarkan tentang pentingnya kasih yang berasal dari Tuhan; bahkan dikatakan “Kasih Terbesar”. Bagaimana supaya kita memiliki kasih terbesar itu? Kita harus minta bimbingan Roh Kudus supaya kita dimampukan untuk bisa mengasihi orang lain, karena kasih itu sendiri bukanlah sifat dasar atau pembawaan kita, melainkan pemberian dari Tuhan sebagai anugerah. Bila kita mau dipimpin Roh Kudus kita pasti mampu mempraktekkan kasih tersebut. Dalam hal mengasihi orang lain, dari pihak kita hanya diperlukan kemauan, bukan kemampuan, sebab kemampuan untuk mengasihi itu diberikan oleh Tuhan. Kalau “Kasih” menjadi dasar dari segala perbuatan untuk penyelesaian masalah atau konflik maka hasilnya pasti bisa diselesaikan dengan baik. Seperti permasalahan yang dihadapi para rasul mengenai jemaat di Anthiokia, hasilnya bisa diselesaikan dengan baik dan sukacita (Kis 15:22-31). Sahabat, manusia yang tidak mengalami kasih tidak akan pernah mampu mengasihi apalagi berbuat hal-hal yang didasari oleh kasih.

Dunia seharusnya bersyukur bahwa kasih terbesar telah lebih dahulu dicurahkan ke atasnya. Maka sudah selayaknya kita yang mengalami kelimpahan kasih harus menjadi teladan bagaimana bertindak sebagai orang yang dikasihi. Pancarkanlah kasih terbesar yang kita alami di mana pun kita berada, agar orang-orang lain pun juga mengalami kasih terbesar itu.

Tuhan Yesus memberkati kita semua(FHM).

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20