Menjadi Penjala

Renungan Senin, 10 Januari 2022, hari biasa.

Bacaan: 1Sam. 1:1-8Mzm. 116:12-13,14,17,18-19Mrk. 1:14-20

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Markus 1:17)

Ikutlah aku! Apa artinya? Kata ikut artinya menyertai orang bepergian, melakukan sesuatu sebagaimana dikerjakan orang lain, mengikuti di belakangnya, meniru, menurut atau menganut (perintah, ajaran, dan sebagainya). Yesus ingin agar kita mengikuti-Nya, artinya kita menuruti firman-Nya, kehendak-Nya, rencana-Nya, dan kepemimpinan-Nya. Dibutuhkan perjuangan untuk mengikuti Yesus, karena kadang-kadang kita mempunyai keinginan sendiri yang mungkin berlawanan dengan kehendak Tuhan. Bagaimana kita dapat menyelaraskan keinginan kita, menundukkan hati ke dalam kepemimpinan-Nya, dan mau mengubah diri, semua itu adalah suatu tantangan.  Kita harus berbalik dari manusia lama menjadi manusia baru, bertobat, dan berubah menjadi pribadi yang semakin menyerupai Yesus.

Pertobatan kita, perubahan kita, akan disadari oleh orang-orang di sekitar kita. Kita bersaksi melalui perbuatan maupun perkataan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian kita sudah mewartakan Kristus, mewartakan kabar baik. Kita dapat bersaksi serta menjadi garam dan terang di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat. Orang lain yang melihat kita akan merasa tertarik kepada Kristus.

Menjala adalah pekerjaan yang dilakukan seorang nelayan dengan memakai jaring. Untuk mendapatkan ikan, perlu tindakan berkali-kali menebar jala. Usaha melempar jaring, menariknya, dan melempar lagi. Kadang dapat ikan, kadang kosong. Maka diperlukan usaha ekstra untuk mendapatkan hasil. Yesus ingin kita menjadi penjala manusia. Pekerjaan yang sederhana yang dilakukan berulang-ulang melalui  perkataan, perbuatan, dan kesaksian iman kita. Kita sebagai penjala, harus berusaha terus sampai akhir hayat kita untuk membawa orang mengalami perjumpaan dengan Kristus.

Dua permintaan Yesus yaitu mengikuti-Nya dan menjadi penjala manusia. Permintaan yang sederhana namun harus dilakukan dengan tekun, terus menerus, dan konsisten. Tidak ada hal yang sulit bila kita lakukan dengan segenap hati dan penuh cinta. Dengan tuntunan Roh Kudus, kita akan dimampukan. Mari kita membuka hati untuk menerima tuntunan-Nya.

Doa: Terima kasih Tuhan atas tuntunan dan penyertaan-Mu dalam hidupku. Semangat api Roh Kudus yang menyala-nyala menjadi kayu api semangat perutusanku. Semoga daku pun dapat menjadi kayu api bagi sesama melalui pewartaanku. Bantulah daku menghidupi firman-Mu, selalu mengikuti Engkau, dan menjadi penjala yang ulet selamanya. Amin.

(IDJ)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20