Mengasihi Allah, Mengasihi Sesama

Renungan Kamis 6 Januari 2022

Bacaan: 1Yoh. 4:19 – 5:4Mzm. 72:2,14,15bc,17Luk. 4:14-22a

Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. (1 Yohanes 4:21)

Ada kebiasaan baik yang sudah dilaksanakan sejak lama oleh warga lingkungan saya, Lingkungan Santo Agustinus. Mereka selalu kompak, guyub dan saling membantu. Bila ada warga yang punya hajat mantu, teman-teman selingkungan menjadi panitia, dipimpin oleh Ketua Lingkungan menyusun rencana kegiatan dan melaksanakannya sampai selesai. Ketika ada perayaan misa di salah satu keluarga, kami mempersiapkan tempat, peralatan misa dan segala sesuatunya sampai kepada bersih-bersih tempat setelah misa selesai. Ketika ada warga yang sakit, kami datang mengunjungi untuk mendoakan kesembuhannya dan memberikan semangat serta peneguhan kepada si sakit. Manakala ada yang kesripahan (meninggal), serentak kompak datang ke rumah duka. Ada yang ke pemakaman mengurus penguburannya, ada yang mempersiapkan peti, bunga dan perlengkapan lainnya, ada yang mengurus jenazahnya, memandikan, mengenakan pakaian dan mendandaninya, menghubungi Romo juga Asisten Imam untuk acara misa atau ibadat sampai selesai penguburannya. Selanjutnya malam-malam berikut biasanya tujuh hari diadakan doa arwah sekaligus menemani, menghibur dan meneguhkan keluarga yang sedang berduka.

Saudaraku yang terkasih, itu sedikit pengalaman yang ada di lingkungan saya, dan saya yakin bahwa di lingkungan Bapak Ibu juga sudah terlaksana paguyuban seperti itu. Bahkan lebih dari itu. Itulah contoh kecil perbuatan kasih kepada saudara seiman sebagai wujud nyata kasih kita kepada Allah. “Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (1Yoh 4:21)

“Saudara-saudaraku terkasih, kita harus mengasihi Allah, karena Allah lebih dulu mengasihi kita.” (1Yohanes 4:19). Kasih Allah kepada kita manusia, begitu besar dan tak terbatas. Dicurahkan kepada semua manusia, tanpa pilih kasih. Yang jahat maupun yang baik semua dikasihi-Nya. Oleh karena itu sebanyak apapun kita menghitung perbuatan kasih yang telah kita lakukan, sebenarnya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan besarnya kasih Allah kepada kita. Perbuatan kasih itu bukan untuk dihitung-hitung dan dipamerkan, karena jika demikian ia akan berubah menjadi dosa kesombongan. Perbuatan kasih itu harus tidak membeda-bedakan kepada siapa diberikan. Ia berangkat dari kedalaman hati yang murni dengan motivasi yang tulus dan ikhlas. Perbuatan kasih itu harus menghasilkan buahnya. “Buah kasih adalah kegembiraan, perdamaian dan kerahiman; kasih menghendaki kemurahan hati dan teguran persaudaraan; ia adalah perhatian; ia ingin memberi dan menerima; ia tanpa pamrih dan murah hati; ia adalah persahabatan dan persekutuan.” (KGK 1829).

Sudah sifat manusia yang selalu lekat dengan kedagingan sehingga keinginan berbuat kasih itu sering tergeser oleh perbuatan lain yang tidak berguna bahkan menjurus ke arah dosa. Maka kasih itu perlu dipertajam dengan doa dan keheningan, mohon bimbingan Roh Kudus agar selalu diarahkan kepada Allah yang adalah sumber dari kasih itu sendiri. Dengan demikian Allah akan tinggal di dalam kita, dan kita di dalam Allah. Selanjutnya kemanunggalan itu akan terwujud sebagai perbuatan kasih yang sejati dalam kehidupan kita sehari-hari. Entah itu dalam keluarga, masyarakat, lingkungan gereja, di tempat kerja, dan di mana pun kita berada.

Semoga…

Doa: Allah Bapa yang Maha Kasih, penuhi kami dengan Roh-Mu agar mampu berbuat kasih seturut kehendak-Mu di mana pun kami berada. Demi kemuliaan nama-Mu kini dan sepanjang segala masa. Amin. (MYM)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20