Iman Mendatangkan Kreativitas

Renungan Jumat, 14 Januari 2022, hari biasa.

Bacaan: 1Sam. 8:4-7,10-22aMzm. 89:16-17,18-19Mrk. 2:1-12.

Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. (Markus 2:4)

Ada dua orang suporter Persebaya ingin menonton pertandingan, keduanya tidak dapat masuk karena stadion sudah penuh sesak. Yang seorang memutuskan pulang, sedangkan yang satu lagi belum juga mau pulang karena dia tetap ingin melihat permainan tim kebanggaannya itu. Lalu dia melihat sebuah pohon tinggi di dekat stadion. Tidak bisa menonton sepak bola di dalam stadion, naik pohon pun jadi, demi tim kesayangan.

Kisah dalam bacaan injil hari ini ternyata juga kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di mana keempat sahabat si lumpuh tidak melihat adanya jalan/kesempatan untuk masuk berjumpa Yesus. Tetapi jika mereka hanya berhenti sampai di situ tanpa melakukan sesuatu, maka pasti tidak akan terjadi perubahan. Keadaan hanya bisa berubah apabila kita tetap berusaha untuk melakukan sesuatu. Menunggu dan tidak melakukan apa-apa adalah dua hal yang berbeda. Menunggu artinya tetap berharap akan adanya kesempatan melakukan sesuatu, sedangkan tidak melakukan apa-apa berarti menyerah.

Seperti cerita tentang kedua suporter di atas, orang yang menunggu pada akhirnya melihat kesempatan untuk bisa tetap menonton meskipun hanya dari atas pohon. Sementara yang seorang lagi menyerah dan pulang.

Keempat sahabat pun melakukan hal yang sama. Ketika tidak dapat masuk menemui Yesus, mereka tidak menyerah dan tetap berharap dalam iman. Iman harus diwujudkan dengan usaha dan ternyata iman mendatangkan kreativitas (Markus 2:4).

Di awal masa pandemi semua kegiatan belajar di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) terhenti, padahal kabar sukacita harus terus diwartakan. Pewartaan kabar sukacita tidak bergantung pada keadaan, melainkan dalam keadaan apapun kabar sukacita harus tetap diwartakan. Terlebih di masa pandemi ini banyak orang mengalami pergumulan, kehilangan perkerjaan, kehilangan orang-orang yang dicintai, dan lain-lain. Justru pada saat seperti ini kabar sukacita sangat dibutuhkan, kalau SEP menyerah dan tidak berbuat apa-apa, maka seperti iman tanpa perbuatan adalah mati.

Iman untuk terus mewartakan kabar sukacita inilah yang awalnya mendatangkan kreativitas bagi beberapa orang untuk mulai mewartakan secara daring (sesuatu yang dulunya belum terpikirkan) dan pada akhirnya menggerakkan semakin banyak orang untuk tetap bekerja. Hingga pada saat ini kegiatan belajar baik itu kelas Misi Evangelisasi, Pemuridan, Oikos, Ajaran Gereja Katolik, Doa dan Pelayanan, semua dapat terlaksana secara daring dan mendatangkan kekuatan serta pengharapan bagi banyak orang. Bahkan bisa menjangkau lebih banyak orang sampai ke luar negeri.

Keadaan seharusnya tidak pernah mematikan iman. Iman akan tetap menemukan jalan bahkan membuat jalannya sendiri selama kita mau tetap bergerak dan tidak menyerah. Iman akan mendatangkan kreativitas.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan iman kami. Mungkin ada saat-saat di mana kelihatannya kami menjumpai jalan buntu, tapi kami percaya selama kami tetap berharap kepada-Mu, iman kami akan mendatangkan kreativitas. Amin.

(MEN)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20