Best of the Best

Renungan Rabu 8 Desember 2021 Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda

Bacaan: Kej. 3:9-15,20; Mzm. 98:1,2-3ab,3bc-4; Ef. 1:3-6,11-12; Luk. 1:26-38.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lukas 1:28)

Suatu kali dalam sebuah retret anak-anak muda di Jakarta, dilontarkan suatu pertanyaan yang cukup konyol: Kenapa Yesus tidak dilahirkan oleh Madonna, Jennifer Lopez, atau Lisa Blackpink? Pasti keren banget dan Yesus bisa langsung punya “followers” jutaan orang.

Dari sekian banyak jawaban, yang tidak kalah konyolnya, ada satu yang menarik: “Yesus pasti diaborsi, maka karya keselamatan Allah gagal deh.” Jawaban ini sangat menggelitik hati saya untuk merenung lebih serius. Allah itu adalah Alfa dan Omega, yang Awal dan yang Akhir. Jadi Allah pasti tahu wanita terbaik sepanjang sejarah awal sampai akhir nanti adalah Maria putri Yoakim dan Anna.

Seandainya wanita terbaik itu adalah Lisa Blackpink maka mudah bagi Allah untuk mempercepat kelahiran Lisa menjadi wanita abad satu Masehi, menjadi bunda Yesus. Tapi sejarahnya tidak seperti itu, faktanya Maria tetap “Best of the Best”.

Dengan segala keadaan saat itu, serta segala kekurangan dan kelebihan dara Maria, Allah tetap menghormati kehendak bebas Maria. Allah tidak akan memaksa apalagi untuk “proyek” sebesar ini. Jika saja Maria menolak tugas mulia ini maka wanita terbaik kedua, ketiga, keempat dan seterusnya pasti tidak akan sanggup juga menerimanya. Lalu gagalkah karya keselamatan Allah bagi dunia? Akankah Yesus batal lahir ke dunia? Saya pribadi memilih untuk menghentikan merenungkan hal ini.

Yang saya simpulkan adalah Bunda Maria memang pahlawan sejati, “Best of the Best”. Kalau kita tidak bisa menghormati Maria, setidaknya jangan menghina atau melecehkannya. Menerima atau tidak, faktanya kita semua menikmati jasa Bunda Maria. Ia bersedia menanggung segala konsekuensi dari tugas mulianya dengan “Viat Voluntas Tua” nya. Yang sampai ribuan tahun kemudian hanya segelintir orang yang sungguh-sungguh berani mengucapkan dengan tulus hati, tiga kata tersebut.

Siapakah kita yang berani memandang sebelah mata pada wanita yang dikaruniai dan disertai Allah?

Sebuah renungan yang didedikasikan untuk Bunda Maria yang lembut hati di Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda. (LO)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20