Yesus Menangisi Yerusalem

Renungan Kamis 18 November 2021

Bacaan: 1Mak. 2:15-29; Mzm. 50:1-2,5-6,14-15; Luk. 19:41-44.

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, (Lukas 19:41)

Saudara-saudaraku terkasih, bacaan Injil di atas berada di dalam perikop yang mengisahkan Yesus yang dielu-elukan di Yerusalem yang terjadi beberapa hari sebelum penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib. Peristiwa yang diperingati sebagai Minggu Palma ini merupakan suatu ironi yang saat itu hanya dapat dimengerti oleh Yesus sendiri. Satu sisi Ia mengetahui bahwa Ia dielu-elukan oleh penduduk Yerusalem yang dicintai-Nya, satu sisi lainnya Ia mengetahui bahwa Yerusalem yang dikasihinya akan lenyap.

Yesus sangat mengetahui bahwa pujian dan sorak ‘Hosana Putra Daud’ bukan berasal dari hati mereka yang terdalam, karena sebenarnya Yesus tahu Yerusalem belum sepenuhnya menerima Dia dan bertobat, dan bahwa Dia melihat kehancuran Yerusalam yang segera akan terjadi. Tentu saat ini kita mengetahui bahwa yang dimaksud Yerusalem dalam bacaan di atas bukan semata-mata kota Yerusalem, namun melambangkan semua umat manusia yang tidak bertobat, acuh tak acuh terhadap panggilan dan firman-Nya dan bergerak tanpa dapat tertahankan menuju kematian atau kebinasaan kekal.

Saya teringat akan peristiwa 3 tahun lalu ketika ayah saya dirawat di rumah sakit karena batuk yang berkepanjangan. Ada indikasi kuat bahwa beliau menderita TBC namun ternyata dari hasil pemeriksaan yang intensif, diketahui bahwa ayah saya terserang kanker paru-paru stadium akhir dan hidupnya tidak akan lama lagi. Dengan berat hati kami, keluarganya, memberi tahu mengenai hasil diagnosa dokter walau kami tidak memberitahu secara mendetail bahwa waktu hidupnya tidak akan lama lagi.

Pada saat saya mendampingi beliau di rumah sakit, ayah saya mengatakan bahwa beliau ingin ke gereja dan mendalami perjalanan hidup St. Theresa dari Kalkuta. Saya membesarkan hatinya bahwa kita akan bisa mewujudkannya bersama namun  kami semua menyimpan suatu kesedihan yang sangat mendalam dengan kesadaran bahwa hidupnya tidak lama lagi dan tidak ada yang dapat bisa kami perbuat untuk menghentikan penyakit ganas tersebut menggerogoti tubuh rentanya.

Kami menangis dalam diam. Berbeda dengan Yerusalem yang benar-benar hancur, ayah saya sempat menerima Sakramen  Baptis beberapa saat sebelum perjalanan hidupnya berakhir yang tentu merupakan bekal bagi kehidupan bahagia abadi bersama Bapa.

Tentu kesedihan saya tidak dapat dibandingkan dengan kesedihan Yesus, namun memberi setitik gambaran dari perasaan Yesus ketika melihat umat yang dikasihi-Nya yang tidak mau bertobat walaupun berulang kali telah diingatkan akan perlunya pertobatan. Seakan-akan pengorbanan-Nya di kayu salib tidak berharga, sebagian umat-Nya tetap kukuh dengan ketidakpercayaan dan keberdosaannya yang secara jelas berarti sedang berjalan menuju pada kebinasaan kekal.

Jadi saudara-saudara terkasih, melalui bacaan ini, mari kita segera menghapus kesedihan Yesus dengan segera menanggapi panggilan-NYA untuk bertobat, tidak berkeras hati untuk menolak kasih yang ditawarkan oleh-Nya, berjuang dalam kekudusan sehingga terhindar dari kehancuran dan kebinasaan kekal.

Marilah berdoa, ya Allah Bapa, kami bersyukur akan kasih-Mu pada kami semua sehingga Engkau rela mengorbankan Putra Tunggal-Mu demi menebus dosa kami, demi keselamatan  kekal kami. Kami mohon bukalah hati kami sehingga dengan rendah hati kami mau mengakui dosa, melepaskan dari belenggu dosa dan benar-benar berjalan bersama-Mu menuju kehidupan yang kekal sebagaimana yang Kau kehendaki. Kami sadar kami hanyalah manusia lemah, namun kami percaya bahwa Engkau akan mengutus Roh Kudus-Mu untuk selalu membimbing kami ke arah yang Kau kehendaki. Kami mohon ini demi Yesus Kristus, Putra-Mu yang Tunggal, Tuhan dan Penyelamat kami.  Amin. (LSL)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20