Penuntun yang Baik

Renungan Jumat 10 September 2021

Bacaan: 1Tim. 1:1-2,12-14; Mzm. 16:1,2a,5,7-8,11; Luk. 6:39-42.

Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?” (Lukas 6:39)

Di dalam kehidupan ini, betapa mudahnya menemukan kekurangan dalam diri sesama daripada melihat kelemahan diri sendiri. Manusia lebih sering membicarakan kekurangan, kesalahan atau bahkan dosa sesama.

Bacaan Injil hari ini mengatakan, keluarkan dahulu balok dari matamu, maka Engkau akan melihat jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu. Yesus tidak ingin para murid menghakimi sesama sementara mereka sendiri mempunyai kekurangan dan kesalahan yang lebih besar. Yesus mengajak para murid untuk introspeksi diri, melihat kelemahan dan kesalahan diri sebelum melihat serta mencela kesalahan atau kekurangan orang lain. Yesus juga mengatakan bahwa seorang buta tidak bisa menuntun orang buta.

Tampaknya ada orang yang begitu bersemangat mengajar atau menuntun orang lain sementara dia sendiri “buta” tentang apa yang dia ajarkan itu, dia sendiri “buta” tentang arah dan jalan yang akan ditempuh. Artinya, pastikan dulu kita memiliki penglihatan yang jelas sebelum berupaya menuntun orang lain, pastikan dulu “mata” kita sudah melek terhadap sesuatu sebelum memberitahukannya kepada orang lain. Dengan kata lain, kita tidak mungkin menuntun orang lain dengan baik kecuali kita sendiri  dapat melihat dengan jelas arah atau jalan yang akan kita tempuh.

Banyak orang yang tanpa kompetensi yang memadai mencoba membimbing orang lain ke jalan yang dia sendiri tidak kuasai. Yesus mau mengingatkan agar kita sebagai murid-Nya haruslah dapat menjadi cermin yang benar bagi orang lain, agar mereka dapat melihat sesuatu yang baik dalam hidup kita dan terdorong untuk memperbarui diri. Jika hidup kita sendiri tidak benar, maka mustahil kita dapat memberikan teladan kepada orang lain. Artinya kita harus bisa menjadi teladan melalui kesaksian hidup karena kesaksian hidup justru berbicara lebih keras daripada kata-kata indah tapi hampa. Inilah yang menjadi pesan Tuhan bagi kita, bahwa Tuhan menghendaki agar setiap kita menjadi penuntun-penuntun yang baik bagi banyak orang.

Penuntun yang baik adalah pribadi yang bukan hanya semata-mata mengajak orang-orang untuk mengikuti apa yang kita percayai, tetapi juga menghidupi apa yang kita percayai. Ketika seseorang tidak menghidupi apa yang ia percaya, sesungguhnya ia belumlah dikatakan seorang yang sedang mempercayai keyakinannya.

Mari, dalam kebersamaan, kita hendaknya saling memberi contoh hidup yang baik, agar kita saling menuntun pada jalan kebenaran. Kita diutus Tuhan menjadi penuntun orang, kita perlu yakin akan tanggung jawab ini dan berpikir untuk melakukan yang benar di mata Tuhan dan sesama.  (LF)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20