Menjadi Pelita Kristus

Renungan Senin 20 September 2021, peringatan wajib Andreas Kim Taegon, Paulus Chong Hasang.

Bacaan: Ezr. 1:1-6; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Luk. 8:16-18

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. (Lukas 8:16)

Suatu kali seorang teman menyampaikan kepada saya tentang kegelisahan dan kegalauannya di masa pandemi ini, sehingga dia sulit tidur di malam hari.

Dia tidak menikah dan tinggal sendirian, jadi dia khawatir sekali bila sampai terpapar Covid-19 kemudian mengalami sesak napas, atau bila dia kena serangan jantung tiba-tiba tetapi tidak ada yang tahu, sehingga dia bisa mati sendirian tanpa ada yang menolong.

Hal ini berbeda dengan orang yang mempunyai keluarga seperti saya katanya, yang punya pasangan dan anak, sehingga kalau terjadi sesuatu akan ada orang yang dapat segera menolong.

Lalu saya ceritakan bahwa kakak ipar saya, baru saja meninggal di rumahnya sendiri setelah berolah raga, padahal saat itu istri dan anaknya ada di rumah. Di lain cerita, ada seorang yang sedang berjalan sendiri di trotoar tiba-tiba terjatuh dan Tuhan menggerakkan orang-orang di sekitarnya untuk segera menolong dan membawanya ke rumah sakit terdekat sehingga orang tadi selamat. Jadi hidup dan mati manusia sepenuhnya berada di tangan Sang Pemegang Kendali kehidupan. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah lebih mempercayai Tuhan dengan berserah sepenuhnya ke dalam pemeliharaan-Nya. Setelah mendengar cerita ini, teman saya tersebut bangkit imannya dan dia mengalami kelegaan.

Saudara-saudariku ketika kita menjumpai orang yang mengalami keputusasaan, dalam kegelapan, kekhawatiran, dan ketakutan, kita bisa membawakan sebatang lilin kecil yang bercahaya, melalui sharing atau cerita kita. Kita bisa melakukan berbagai hal sederhana untuk memberikan dukungan. Kebaikan-kebaikan kecil bila dilakukan dengan tulus ikhlas, tanpa menonjolkan diri, akan menginspirasi banyak orang dan cahayanya tidak akan dilupakan orang seperti yang diteladankan oleh Bunda Teresa dari Kolkata (dulu Calcutta).

Bunda Teresa adalah contoh yang nyaris sempurna, ia menyerahkan dirinya ke dalam penyelenggaraan Ilahi, melayani orang miskin, sakit, terpinggirkan, dan orang menyebutnya sebagai Santa Yang Hidup, karena cahaya pelitanya menerangi dunia.

Doa: Ya Tuhan Yesus, mampukan kami menjadi pelita-pelita kecil Kristus yang menerangi jalan hidup sesama kami, sehingga nama-Mu dimuliakan di seluruh bumi. Amin.

(Mm)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20