Tuhan Membuka Topeng Saya

Shalom

Saya merasa sangat beruntung mempunyai sahabat yang tidak mengenal lelah mempromosikan Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) kepada saya.

Pada mulanya saya tidak mau dan menolak untuk ikut SEP karena saya sudah merasa cukup dengan pelayanan yang sudah saya lakukan selama ini, maupun dengan rekoleksi dan camp rohani yang saya ikuti. Namun dengan mengikuti pelajaran di SEP ternyata saya diajak untuk mengenal Yesus lebih dalam lagi sekaligus digembleng untuk menjadi pewarta kabar sukacita dari Tuhan untuk sesama supaya semakin banyak orang bertobat dan diselamatkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, tidak terasa saya sudah menyelesaikan pelajaran di kelas Oikos. Di mana selama mengikuti pelajaran, saya merasakan ada suatu perubahan dalam diri saya, terutama terkait penguasaan diri. Saya orang yang mempunyai temperamen keras, tetapi sekarang sudah sangat jauh berkurang. Kalau sebelumnya saya mudah marah, tetapi sekarang lebih bisa bersabar, baik di dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Sehingga saya merasa saya sudah menjadi orang yang rendah hati, menjadi orang yang penyabar, menjadi orang yang baik.

Namun ternyata itu hanya perasaan saya sendiri saja. Pada kenyataannya, saya masih sangat jauh sekali dibandingkan dengan sifat-sifat Tuhan Yesus yang saya kenal selama ini.

Bapak Ibu terkasih, sepuluh hari sebelum Retret Perutusan (retus) diadakan, entah mengapa, watak temperamen saya yang keras tiba-tiba muncul kembali. Setiap hari, hati saya merasa panas dan capek pikiran. Pekerjaan yang mulai sepi juga membuat saya kembali mudah marah. Delapan hari menjelang retus, saya memarahi seorang karyawan distributor kipas angin yang  saya menganggap dia meremehkan saya ketika melayani pembelian saya.

Sesampai di rumah, saya termenung. Mengapa selama beberapa hari terasa berbeda? Mengapa saya bisa melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran kasih yang saya imani?

Ternyata lewat sarana peristiwa tersebut, Tuhan Yesus mau menegur saya. Lewat pembicara saat retus, Bu Judy, Pak Franky, Bu Lanny, Bu Siska, Tuhan membuka topeng saya yang masih selalu mengandalkan kekuatan sendiri, yang masih penuh kesombongan, yang egonya masih tinggi, yang masih mudah marah. Lewat retus, di setiap sesi, saya benar-benar tertampar. Sikap saya diperbaiki supaya layak menjadi pewarta yang serupa Kristus.

Pada puncaknya di acara refleksi diri pada Senin malam, saya melihat mainan lonceng kecil yang biasanya dipakai memanggil pulang kucing peliharaan. Saat itu saya merasakan Tuhan berbicara kepada saya melalui mainan lonceng itu:

“Kapan kamu akan menjalankan firman-Ku dengan benar dan mewartakan kabar sukacita-Ku sepenuh hati? Ketika lonceng ini kubunyikan dan kamu harus kembali ke rumah-Ku, tidak ada lagi yang bisa kamu perbuat kecuali mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu di dunia.”

Terima kasih Bapak Ibu pengajar di SEP yang sudah membimbing saya selama ini. Terima kasih saya bisa mengikuti acara retus di mana saya diingatkan, ditegur dan dikuatkan supaya bisa menjadi pewarta injil seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Amin. [GUN]

×