Bulir-Bulir Gandum

Renungan Selasa 27 Juli 2021

Bacaan: Kel. 33:7-11; 34:5b-9,28; Mzm. 103:6-7,8-9,10-11,12-13; Mat. 13:36-43

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Matiut 13:43b.)

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Kristus, apakah Anda pernah ke kebun dan memperhatikan bahwa pasti ada tanaman yang tidak diharapkan yang  tumbuh di area kebun-kebun kita, bahkan dalam pot tanaman kaktus saya yang kecilpun bisa tumbuh tanaman yang asing. Pada awal tanaman tersebut tumbuh, seringkali saya ragu-ragu, apakah tanaman mungil ini adalah benih yang tumbuh dari tanaman yang saya harapkan atau hanyalah tanaman liar? Nah, setelah sekian lama mengamati, barulah saya bisa memastikan, bahwa tanaman kecil yang sekarang ini sudah besar, ternyata hanya menyerupai tanaman yang saya harapkan, hanya tanaman liar yang akan merusak tanaman utama saya, maka seketika itu juga saya mencabut dan membuangnya.

Jadi saya sangat memahami bacaan Injil hari ini, yang sudah tidak asing lagi dan biasanya saya terima dengan baik-baik saja karena saya berasumsi bahwa saya adalah anak-anak Kerajaan Allah, benih yang baik, rumpun gandum karena saya sudah dibaptis, sudah hidup dalam Tuhan, berdoa, merenungkan firman-Nya setiap hari, dan sebagainya. Namun ketika mendalami peringatan Yesus dalam ayat terakhir, Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”, muncul pertanyaan baru dalam hati saya: bagaimana jika saya bukanlah benih baik, bukanlah gandum, melainkan lalang tersebut? Atau bagaimana jika saya adalah tanaman gandum namun gagal bertumbuh dan berbulir sehingga nyaris tidak ada bedanya dengan lalang tersebut? Bukankah sama-sama tidak menghasilkan dan akhirnya tanaman gandum yang mirip lalang inipun akan ikut terbuang dan dibakar dalam api?

Seketika saya bisa lebih mengerti firman Yesus tersebut,  bahwa yang Yesus maksudkan anak-anak Kerajaan, bukan diperoleh otomatis dari pembaptisan, bukan hanya sekedar status atau gelar sebagai anak-anak Kerajaan Allah namun terlebih dari sikap atau tindakan yang memang menunjukkan martabat sebagai anak-anak Kerajaan Allah, yang terlihat dari buah-buah atau bulir-bulir yang dihasilkan bagi keluarga dan masyarakat. Kesadaran ini langsung menerpa saya, membuat saya malu sekaligus menyapu kesombongan rohani yang sempat muncul di benak saya.

Saudara-saudari terkasih, saat ini kita berada dalam badai yang cukup besar, dunia sedang dilanda kesedihan dan keterpurukan yang mendalam akibat dari pandemi Covid ini. Kita dihadapkan pada pilihan apakah kita akan ikut berpartisipasi sebagai anak-anak Kerajaan Allah atau hanya sebagai anak lain yang hanya hidup dalam dunianya sendiri? Hari ini, berdasar pada bacaan Injil yang baru saja kita dengar, saya mengajak saudara-saudari terkasih untuk ikut berpartisipasi mengulurkan tangan dan hati untuk menghadirkan sukacita dalam bentuk apapun. Jika kita belum mampu berkontribusi dalam tindakan nyata atau materi, kita tetap bisa berkontribusi dalam hal lain, bahkan dalam bentuk yang paling sederhana seperti doa yang pasti tidak akan sia-sia.

Marilah berdoa, ya Allah Bapa yang maha kasih, kami bersyukur Engkau telah memanggil kami menjadi anak-anak Kerajaan-Mu. Terangi budi kami sehingga kami peka terhadap penderitaan di sekeliling kami dan mampu menunjukkan belas kasih yang Kau ajarkan sendiri pada kami dan menghadirkan terang sukacita bagi banyak orang di tengah dunia yang sedang menderita ini. Teguhkan kami untuk berani bertindak, berucap dan berdoa bagi orang lain sehingga kami layak disebut anak-anak Kerajaan Allah. Kami mohon semua ini dengan perantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu yang tunggal Tuhan kami. Amin (LSL)

Please follow and like us:
error20
fb-share-icon0
Tweet 20
fb-share-icon20