Menabur dan Menuai

Renungan Rabu 16 Juni 2021

Bacaan: 2Kor. 9: 6-11; Mzm. 112:1-2,3-4,9; Mat. 6:1-6,16-18.

Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. (2 Korintus 9;6)

Apakah menabur sedikit, akan menuai sedikit bagi pengusaha Katolik?

Manusia dalam usahanya menggunakan seluruh kepandaiannya, membuat rencana usahanya dengan mengidentifikasi hal-hal yang menguntungkan bagi dirinya. Bagaimana membuat dirinya atau barangnya makin terkenal? Bagaimana mencari kesempatan usaha yang menguntungkan? Bagaimana mengendalikan pengeluaran yang tidak dibutuhkan, agar tidak mengurangi pendapatan/keuntungan kita? Setelah semua diidentifikasi masih dilakukan analisa secara cermat, dibuat suatu strategi perencanaan dan perhitungan yang terprogram agar semuanya dalam kendalinya untuk mendapatkan keuntungan penghasilan sebesar-besarnya, hal ini kita anggap sebagai suatu upaya manusia yang sangat cerdas.

Tetapi dalam 2 Kor 9:6-7, Santo Paulus menuliskan, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Suatu cara yang amat berbeda, karena dalam usaha ada pendapat bila: “banyak pengeluaran dikeluarkan secara berlebihan untuk sosial/berderma akan berdampak pada kurangnya keuntungan, atau bahkan merugikan.” Rasanya tidak masuk akal dalam perhitungan bisnis yang telah dilakukan penelitian dengan cermat. Bagaimana dalam usaha, bila pengeluaran tidak diperketat, terlebih saat-saat ini di masa pandemi, atau dikendalikan dan digunakan untuk hal-hal yang tidak sesuai rencana, apakah akan berdampak keuntungan, berkurang bahkan kerugian.

Dalam 2Kor 9:6-7 Santo Paulus melanjutkan, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita,” ayat yang tetap berbicara tentang memberi, mengeluarkan untuk sesuatu di luar perencanaan usaha kita. Bagaimana kita sebagai murid Kristus mau mengatur sesuai kecerdikan usaha, atau mau tetap memberi dengan mendanakan pengeluaran menurut kerelaan, bukan paksaan, tidak merasa dirugikan, tetapi memang sesuatu yang sudah dari awal kita persembahkan bagi kerajaan Allah.

Allah sungguh bijaksana, Ia tidak memaksa kita untuk mau memiliki iman yang makin dewasa, dalam membangun kerajaan Allah di bumi ini. Sehingga, kita memberikan sesuatu pada orang yang membutuhkan, bukan karena takut akan aturan agama kita atau merasa sedih hati atau karena paksaan  karena teman-teman sekomunitas meminta derma/dana untuk sesuatu. Tetapi seperti kehendak Allah yang kita cintai dan percaya, yang memang keluar dari iman kita, karena Allah mau kita memberi dengan tulus, yang merupakan bagian dari hidup dan usaha kita memberi dengan sukacita. Allah memberikan kebebasan pada kita untuk mengukur takaran kita  agar kita jujur dan tulus dalam memberi, karena percaya dan mengimani Allah. (WYN)