Kerajaan Allah di Dunia

Renungan Senin 14 Juni 2021

Bacaan: 2Kor. 6: 1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Mat. 5:38-42

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. (Matius 5:38-42)

Firman Tuhan hari ini adalah firman yang tidak mudah untuk dilakukan karena tidak sama dengan apa yang berlaku di dunia ini. Terkadang kita merasa mustahil untuk melakukannya. Diperlukan suatu penyerahan diri yang total untuk bisa menjalankannya. Penyerahan diri ini memerlukan Kerajaan Allah yang hidup dalam diri kita.

Menurut Kardinal Joseph Ratzinger, gereja ada supaya di dunia ini tercipta ruang bagi Allah, supaya Ia dapat tinggal di dalamnya dan dengan demikian, dunia menjadi kerajaan-Nya. Melalui Yesus, Kerajaan Allah sebenarnya telah dimulai di tengah dunia. Ketika sakramen diberikan kepada dunia, di mana dunia lama yang penuh dosa dan kematian dilemahkan sampai ke akar-akarnya dan diubah, maka mulailah ada ciptaan baru yaitu Kerajaan Allah.

Saat dibaptis, kita semua diberi benih Kerajaan Allah yang dimaksudkan untuk tumbuh subur, seperti benih yang ditebar oleh petani, tumbuh makin tinggi, besar, berkembang, bahkan berbuah banyak. Artinya semua yang sudah dibaptis adalah pewarta kabar gembira yang harus menebarkan kebaikan-kebaikan Allah dan mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini seperti yang dirindukan Allah. Semua itu akan dapat terlaksana, bila pertumbuhan iman serta cinta kasih akan Allah dan sesama terutama dalam keluarga masing-masing semakin nyata dan tulus. Hal itu dimungkinkan bila melekat pada pokok anggur yang benar, yaitu Yesus, Sang Firman itu sendiri, sehingga kita dapat menjadi pelaku firman itu.

Dengan demikian, maka firman Tuhan yang tertulis dalam Matius 5:38-42 tidaklah mustahil untuk dilakukan.

Mari kita memeriksa diri kita sendiri.

Apakah kita sudah mengampuni yang berbuat jahat terhadap kita?

Apakah kita sudah memberikan jubah kita ketika seseorang meminta baju kita?

Apakah kita sudah berjalan dua mil ketika seseorang meminta kita berjalan satu mil?

Apakah kita sudah rela memberi ketika ada orang yang memerlukan?

Marilah kita berdoa. Tuhan Yesus ampunilah aku karena masih banyak kelemahan-kelemahan dalam diriku. Anugerahkanlah belas kasih-Mu pada hamba-Mu. Biarlah Kerajaan-Mu ada dalam diriku, sehingga Engkau boleh tinggal dalam hidupku selama-lamanya, sehingga aku bisa menjadi pelaku firman-Mu yang sejati. Amin. (JRW)