Jika Matamu Membuat Kamu Berdosa

Renungan Jumat 11 Juni 2021, Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus

Bacaan: Hos. 11:1,3-4,8c-9; MT Yes. 11:2-3,4-bcd,5-6; Ef. 3:8-12,14-19; Yoh. 19:31-37 atau Mat. 5:27-32

“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” (Matius 5:29)

Mengerikan bukan, membaca ayat ini: “cungkillah matamu” atau “penggallah tanganmu dan buanglah jika itu menyesatkanmu”. Mengapa Yesus mengatakan hal sekeras ini? Tak lain dan tak bukan karena Yesus ingin semua murid-Nya dengan tegas memilih kehidupan, yaitu hidup yang berkelimpahan dengan sukacita dan kebahagiaan bersama Allah, bukan hidup yang menuju kepada kematian, yaitu kematian dalam segala hal yang memisahkan kita dari persekutuan dalam cinta kasih, damai sejahtera, sukacita dan relasi intim dengan Allah. Di hadapan para murid Yesus memberikan satu tujuan hidup yang sangat membutuhkan pengorbanan yaitu menyesuaikan kehendak kita dengan apa yang Allah kehendaki untuk kesejahteraan dan kebahagiaan kita bersama Dia. Serupa dengan dokter bedah yang memotong bagian tubuh kita yang terkena penyakit dan harus diamputasi agar tidak menulari seluruh bagian tubuh yang lain, demikian juga kita harus siap melepaskan diri dari sesuatu yang membuat kita jatuh dalam dosa dan mengakibatkan kematian rohani.

Satu tanggung jawab besar dan sulit yang Yesus percayakan kepada kita para murid-Nya adalah “Janganlah menjadi batu sandungan bagi sesama”, yaitu tidak memberikan contoh buruk yang membuat orang jatuh dalam dosa.

Pada suatu hari Minggu selesai Ekaristi, secara kebetulan saya mendengar seorang Romo marah dan mengeluarkan kata-kata yang sangat hina kepada seorang umat. Kedua anak saya yang masih usia Sekolah Dasar bertanya dengan heran kepada saya, “Kok gitu ya mam? Habis persembahkan misa, angkat hosti, sekarang marah-marah, dan kasar sekali?“ Mak jleb rasanya, karena memang ini suatu contoh yang sangat buruk tapi nyata. Baru beberapa menit sebelumnya masih mempersembahkan misa, mengangkat hosti kudus, dan membagikannya kepada umat, namun setelahnya berubah 180 derajat.

Yesus mengajarkan bahwa untuk bertumbuh dalam iman dan semakin dekat kepada Bapa serta menjadi lebih saleh dalam banyak hal, kita harus belajar menanggapi berbagai macam situasi kehidupan dengan cara yang berkenan kepada Allah. Keinginan jahat timbul dari hati. Oleh karena itu, pengendalian diri disertai penguasaan hati harus terus dilakukan. Dimulai dengan penguasaan hati, karena hati merupakan pusat emosi yang akan memengaruhi pikiran dan niat.

Doa: Tuhan Yesus, aku membuka hati agar Engkau dapat kembali menaburkan benih cinta dan kasih dalam hidupku. Tambahkan imanku setiap hari dan kobarkan api cintaku kepada-Mu sehingga aku semakin mampu untuk hidup dalam jalan kekudusan dan kebenaran. Murnikan pikiran, kehendak, dan akal budiku sehingga aku hanya menginginkan apa yang menyenangkan hati-Mu. Amin. (MM)