Tinggallah di Dalam Aku

Renungan Minggu 2 Mei 2021, Hari Minggu Paskah V, PW St. Atanasius Agung.

Bacaan: Kis. 9:26-31 ;Mzm. 22:26b-27,28,30,31-32 ;1Yoh. 3:18-24Yoh. 15:1-8

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:4-5)

Bila kita amati bacaan Injil hari ini kita akan menemukan kata tinggal sebanyak tujuh kali. Kata ini merupakan kata kunci dalam hidup rohani para murid Kristus. Tinggal di dalam Kristus adalah syarat mutlak bagi murid-murid Kristus. Kristus sebagai sumber kehidupan kita. Menghidupi kehidupan Kristus adalah panggilan kita.

Hari ini kita mendengar kisah mengenai pokok anggur yang benar yaitu Yesus. Setiap ranting yang tinggal pada pokok anggur pasti akan berbuah, karena Bapa sendirilah perawatnya. Ranting tidak bisa menghasilkan buahnya sendiri, jika tidak tinggal pada pokok anggur.

Kita pun sama seperti ranting, tidak bisa berbuah dari dirinya sendiri, jadi harus tinggal di dalam pokok anggur yaitu Yesus. Tinggal di dalam Yesus berarti membiarkan firman-Nya tinggal di dalam diri kita dan menghasilkan buah.

Kesatuan kita dengan Kristus dapat dipererat juga melalui doa, seperti yang dikatakan oleh St. Teresa dari Avila, suatu percakapan antara dua sahabat yang saling mengasihi. Berusaha untuk selalu membersihkan diri dari benalu yang menempel di dalam diri kita melalui sakramen tobat. Dengan cara-cara seperti itu kita akan beroleh sumber kehidupan yang menyegarkan, menyehatkan dan memberi buah.

Saya bersyukur bahwa Bapa menuntun saya untuk masuk dalam keluarga besar Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) yang selalu mengobarkan semangat dengan kegiatan-kegiatan rohani yang menguatkan iman saya dan membuat saya melekat erat pada pokok anggur. Communio (persekutuan) dengan Sang Pokok Anggur membuat segala daya tumbuh dan berbuah baik tetap mengalir. Kebalikannya bila terpisah, terlepas, tidak setia, tidak menimba pada sumbernya; akan mengakibatkan kekeringan, kemandulan, dan kematian; semua ini adalah jalan mulus menuju kebinasaan kekal karena memisahkan diri dari sumber kehidupan, yaitu Allah sendiri. Inilah yang harus dihindari.

Ingatlah saat-saat kita terpisah, tercampak, tercabut dari Sang Pokok Anggur, betapa mengerikan akibatnya. “Tinggallah…, tinggallah di dalam Aku…” adalah sebuah undangan yang jangan sampai tidak kita jawab. Semoga kita semua siap menjawab: “Ya” atas undangan Tuhan ini. (MLEN)