Dewasa Rohani

Renungan Sabtu 8 Mei 2021 Hari Biasa Pekan V Paskah

Bacaan: Kis. 16:1-10; Mzm. 100:1-2,3,5; Yoh. 15:18-21

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. (Yohanes 15:18)

Setiap perkataan Yesus selalu aktual bagi kehidupan manusia hingga saat ini. Kesaksian hidup-Nya menjadi nilai-nilai kristiani untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Dan kata-kata-Nya akan membuat siapa saja yang mendengarnya merasa diteguhkan dan tidak takut terhadap ancaman dan godaan dunia.

Setiap orang dipanggil dan diutus sesuai dengan bidang kehidupan yang digelutinya. Perutusan kita, baik dalam panggilan hidup berkeluarga, karir, maupun sebagai imam, biarawan dan biarawati, tentu tidak mulus-mulus dan aman-aman saja. Banyak tantangan yang kita hadapi misalnya: dibenci, dikucilkan, diremehkan, tidak dipercaya, dan seterusnya. Pengalaman itu sangat menyakitkan. Namun, apakah kita berani menerimanya sebagai anugerah untuk mendewasakan hidup rohani kita? Kedewasaan hidup seseorang bukan terletak pada pendidikan tinggi yang dimilikinya, melainkan pada cara ia menyikapi dan menerima semua pengalaman hidup, baik yang menyakitkan maupun yang menggembirakan itu sebagai anugerah.

Melalui Injil yang kita dengarkan hari ini Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya bahwa konsekuensi mengikuti Dia tidak selalu mudah. Sebab ketika para pengikut Kristus mulai menghayati cara hidup kristiani dengan lebih bertanggungjawab, penuh cinta, jujur, rendah hati, sabar, tantangan dan penolakan justru semakin besar.

Dalam penghayatan kehidupan sehari-hari, kita pengikut Kristus sering mengalami kesulitan dan kebencian. Di kantor, di lingkungan masyarakat, kita sering dianggap minoritas dan dibatasi hak-hak kita. Bahkan di banyak tempat, berdoa dilarang,  mendirikan gereja pun dilarang, harus minta izin yang kadang izinnya dipersulit atau bahkan dilarang. Di akhir zaman ini banyak orang menyangka bahwa menganiaya pengikut Kristus adalah wujud dari ibadah, seperti tertulis:

“Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.”  (Yohanes 16:2).

Di tengah tantangan yang berat ini haruskah kita takut, tawar hati dan berniat meninggalkan Kristus? Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 5:10).  Rasul Petrus juga menguatkan, “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.” (1 Petrus 2:19, 20b). Itulah konsekuensi mengikuti Yesus. Kalau Yesus, guru dan Tuhan kita mengalami kebencian dan dianiaya, maka kita pengikut-Nya harus berani juga mengalami hal serupa. “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya.” demikan Sabda Yesus. Hanya satu yang perlu kita imani yaitu bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Tuhan akan senantiasa menyertai dan memberi kekuatan kepada kita.​

Tuhan Yesus juga telah memberikan Roh Kudus, Dialah yang akan menyertai dan menolong kita dalam mengemban tugas sebagai pemberita Injil dan saksi-saksi-Nya di tengah dunia. Mari belajar dari kisah hidup Paulus yang setia melayani Tuhan sampai garis akhir  hidupnya!.

“….Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20) Tantangan kita sekarang lebih dari dalam diri kita sendiri. Bagaimana kita hidup dan menjadi orang Kristen yang bermutu dan setia kepada Yesus. (FXSW)

Lagu

Selidiki aku, lihat hatiku.

Apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus.​

Kau yang maha tahu.

Dan menilai hidupku.

Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu.