Manusia Baru

Renungan  Senin 12 April 2021, Hari Biasa Pekan II Paskah.

Bacaan: Kis. 4:23-31; Mzm. 2:1-3,4-6,7-9; Yoh. 3:1-8.

Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:5)

Lahir berarti keluar dari kandungan (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dari ruang yang sempit dan gelap, keluar ke dunia yang terang dan luas, sebagai manusia baru, individu baru yang bersih. Dalam sebuah keluarga, kelahiran seorang anak merupakan peristiwa suka cita yang dinanti dan ditunggu, karena belum lengkaplah sebuah keluarga bila belum lahir anggota baru. Hadirnya manusia baru membawa kegembiraan dan sukacita besar bagi orang tua, kerabat dan masyarakat sekitarnya, suasana rumah menjadi ceria dan penuh warna.

Hari ini Yesus mengajarkan tentang kelahiran kembali kepada Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Yesus mengatakan, bahwa seorang yang tidak dilahirkan dari air dan Roh tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dilahirkan dari air dan Roh adalah gambaran peristiwa pembaptisan. Dengan dibaptis kita dilahirkan menjadi manusia baru yang bersih, karena dosa-dosa kita sudah diampuni, dan martabat kita diangkat menjadi anak Allah. Melalui Sakramen Baptis, kita juga dianugerahi Roh Kudus yang memberikan semangat baru dan menuntun hidup kita masuk dalam kerajaan Allah. Ada suka cita besar di surga, saat seseorang mau bertobat dan menyerahkan diri untuk dibaptis, dia akan mengalami kelahiran kembali menjadi manusia baru dan menerima hidup baru dalam Roh, mau membuka hati untuk karya Roh Kudus, untuk semakin mengenal pribadi Yesus dan menghidupinya dalam kegiatan sehari-hari serta mampu mewujudkan karakter Yesus dalam kata dan perbuatan, agar Yesus yang hidup dalam diri orang tersebut sungguh nyata dan dapat dirasakan oleh orang lain.

Peristiwa lahir kembali bukan saja kita alami saat pembaptisan, pada masa Paskah sekarang, kita juga mengalami lahir kembali berkat wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus Kristus menjadikan kita lahir kembali menjadi manusia baru dalam semangat dan sukacita sebagai anak-anak Allah. Sejatinya setiap kita mengikuti perayaan ekaristi, kita merayakan Paskah. Karena dalam perayaan Ekaristi kita mengenang kembali sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi tidak perlu menunggu satu tahun untuk mengalami kelahiran kembali.

Lalu bagaimana kita mewujudkan penghayatan sebagai anak-anak Allah, yang terlahir menjadi manusia baru, agar semangat dan sukacita karena kebangkitan Yesus dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita. Tidak perlu dengan cara-cara heroik atau menunggu tanda dan mukjizat sebagaimana ditunjukkan oleh Petrus dan Yohanes (Kis. 3:6-7), cukup dengan tindakan sederhana, misalnya menjalankan tugas dan pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh tanpa mengeluh, memberi perhatian dan peduli terhadap teman kerja atau orang-orang di sekitar kita yang dalam kesulitan atau kesusahan, menjadi sumber kegembiraan dan tidak menjadi batu sandungan atau beban bagi orang lain.

Doa

Allah Tritunggal yang Maha Kasih, puji syukur kami unjukkan ke hadirat-Mu atas rahmat kebangkitan Putra-Mu. Putra-Mu yang taat pada kehendak dan rencana-Mu, dengan rela menanggung sengsara, hingga wafat di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kami. Namun kuasa-Mu lebih besar dari pada maut, dari dalam kubur Kau bangkitkan Putra-Mu, Kau muliakan di surga, dan Kau kirimkan penolong untuk membimbing, menuntun dan menyertai hidup kami. Ampunilah kami ya Allah, manusia rapuh yang mudah jatuh ke dalam dosa. Mampukan dan teguhkanlah kami untuk menguburkan manusia lama kami dan membuka hati terhadap karya Roh Kudus, agar kami layak lahir kembali sebagai manusia baru yang hidup dalam Roh dan masuk ke dalam Kerajaan-Mu. Dengan hidup dalam Roh, kami semakin mengenal Putra-Mu, menghidupinya dan membawa dalam kehidupan kami sehari-hari. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami yang bersatu dengan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin. (CEI)