Bersama Yesus Hati Berkobar

Renungan Rabu 7 April 2021, Oktaf Paskah I

Bacaan: Kis 3:1-10 ; Mzm 105:1-2, 3-4, 6-7, 8-9; Luk 24: 13-35

Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Lukas 24: 32)

Dua murid yang kembali ke Emaus mewakili gambaran dari murid-murid yang mengalami kekecewaan dan kehilangan harapan ketika impian mereka bersama Yesus berakhir pahit. Seperti kedua murid itu, saya pun sering merasa kecewa dan pesimis ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. Ketika saya berusaha keras untuk mengusahakan sesuatu bahkan juga mendoakannya, saya sering menuntut agar hal sukses dan baik harus terjadi. Sehingga ketika hal sebaliknya yang terjadi, maka saya cepat disergap perasaan kecewa, kehilangan harapan, dan sulit untuk menerimanya.

Ketika saya gagal berprestasi dalam pekerjaan, ketika saya tidak diterima dalam suatu bidang pelayanan, atau ketika anak saya tidak diterima untuk bekerja pada suatu perusahaan, maka saya langsung beranggapan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut adalah kegagalan. Akibatnya saya lebih memperhatikan apakah ada sesuatu yang salah. Apakah itu karena diri saya, tim saya, anak saya, persiapan yang kurang, semangat yang kurang, keadaan yang kurang mendukung, atasan saya yang kurang adil, dan berbagai analisa lain yang merampas rasa syukur saya.

Sama seperti saat Yesus mendekati kedua murid tersebut dan berbicara dengan mereka, Yesus pun mendekati saya dan hendak berjalan bersama saya. Ia berbicara kepada saya dan mengharapkan saya mendengarkan-Nya supaya hati saya terbuka untuk tidak lagi memandang perisitiwa-peristiwa yang terjadi sebagai suatu kegagalan tetapi menerimanya sebagai perjalanan hidup yang membawa diri saya dan keluarga  untuk lebih dekat kepada Tuhan, membentuk karakter kami, semakin beriman dan mengandalkan Tuhan, dan akhirnya melihat rencana Tuhan yang jauh lebih sempurna terjadi di dalam dan melalui kehidupan kami.

Mempercayai campur tangan, penyertaan, dan rencana Tuhan dalam kehidupan saya membuat hati saya selalu berkobar dengan sukacita dan semangat yang tidak dapat dipadamkan oleh siapa pun dan apa pun yang terjadi.

Doa: Tuhan, terima kasih Engkau menjumpai kami masing-masing secara pribadi. Kami sering sibuk dengan pemikiran dan pertimbangan kami sendiri sehingga tidak dapat merasakan kehadiran-Mu dalam hidup kami. Kini kami siap berhenti sejenak untuk mendengarkan Engkau berbicara, supaya kami makin memahami kehendak-Mu yang memerdekakan kami. Amin. (RMWT)