Beroleh Hidup Kekal

Renungan Kamis 15 April 2021 Hari Biasa Pekan II Paskah.

Bacaan: Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.

Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya. (Yohanes 3:36)

Pernahkah kita merasakan suatu kerinduan yang amat sangat, seolah tak terbendung, akan hidup berkelimpahan yang Allah berikan melalui karunia Roh Kudus? Pada saat membaca dan merenungkan tentang Elia dan Elisa di 2 Raj 2:9, ketika Elisa meminta dua bagian dari roh Elia, terlintas dalam pikiran dan hatiku pribadi, “Oh Tuhan, kalau Elia berkenan memberikan rohnya kepada Elisa, berapa bagian dari Roh-Mu yang Kau berikan kepadaku? Elisa berani meminta dua bagian dari roh Elia. Duh Tuhan, lalu aku mau minta seberapa ya?” Sedih dan ‘ngenes’ sekali rasanya saat berada dalam kerinduan yang amat sangat, seperti orang yang sedang berjalan di padang gurun mencari sumber air karena kehausan.

Roh Kudus membuka hati dan pikiran kita untuk mampu menerima, mencerna dan menghayati firman Allah yang mengandung segala kebenaran. Yesus sendiri mengatakan kepada para murid bahwa mereka bisa memercayai semua yang dikatakan-Nya karena Allah Bapa telah mengurapi diri-Nya dan mencurahkan Roh Kudus sehabis-habisnya. Roh Kuduslah yang menyingkapkan segala kebenaran; seperti kata Yesus, “tetapi apabila Roh Kebenaran itu datang, Ia akan memimpin kamu kepada seluruh kebenaran.” (Yoh 16:13).

Pengalaman pribadi saya beberapa saat lalu, setelah selesai mengajar online kelas Pemuridan (PMD) – ada seorang siswa bertanya melalui pesan jalur pribadi WA (Whatsapp Messenger) mengenai cobaan yang dialami Yesus dan yang dia rasakan pada dirinya. Pertanyaannya: “Ibu, apakah saya ini begitu buruk sehingga semua gambaran pencobaan Yesus itu ada pada diri saya dan nyata saya alami, bagaimana saya dapat memperbaiki diri? Saya sudah ikut kelas Dei Verbum, rajin buat Lectio Divina (LD) dan saya tidak pernah lalai berdoa rosario.”

“Aduh, bagaimana saya dapat menjawabnya?” Kemudian saya berkonsultasi ke rekan pengajar yang lebih senior dan dianjurkan untuk membawa pertanyaan ini dalam doa, dan bila perlu bertanya kepada Romo. Keesokan pagi saya ikut misa harian, saya merasakan bahwa homilinya sangat tepat untuk siswa yang bertanya itu. Saya anjurkan agar siswa tersebut mendengarkan bagian homili beberapa kali. Malam hari, saya menerima pesan WA, dan siswa tersebut mengatakan dia sudah mendapatkan jawaban yang sangat dia butuhkan dari homili Romo pada misa harian tersebut. Bukan karena pandaiku, melainkan karena tuntunan Roh Kudus, pagi itu saya memilih misa harian dari paroki lain dari yang biasa saya ikuti, dan mendapatkan pencerahan melalui bacaan dan Injil serta homili yang ternyata merupakan jawaban yang diperlukan oleh siswa yang bertanya tersebut.

Allah memberi kita kehendak bebas untuk menerima atau menolak apa yang Ia sampaikan. Tetapi dengan kebebasan itu pun disertai dengan tanggung jawab untuk menyadari adanya konsekuensi pilihan kita, apakah mau memercayai apa yang Allah katakan melalui Putra-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, atau mengabaikan bahkan menolak dan memilih jalan kita sendiri terpisah dari Allah. Pilihan kita akan membawa kita kepada jalan kebenaran dengan hidup yang berkelimpahan dalam persatuan dengan Allah, atau jalan menuju kematian spiritual dan terpisah dari Allah.

Doa

Tuhan Yesus, biarkanlah Roh Kudus mengalir bebas memenuhi hidupku, mengubah aku dan seluruh cara hidupku. Ubahkanlah hati dan pikiranku sehingga aku lebih memilih untuk tetap setia kepada-Mu, menuju kehidupan yang berkelimpahan dalam persekutuan dengan Allah. Mampukan aku menyadari betapa besar kasih-Mu kepadaku. Beri aku keberanian untuk selalu memilih jalan hidup yang benar, lurus dan menuju kepada kehidupan kekal. Amin. (BMM)