Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup

Renungan Jumat 30 April 2021, pekan IV Paskah.

Bacaan: Kis. 13:26-33; Mzm. 2:6-7,8-9,10-11; Yoh. 14:1-6.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” “Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yoh.14:1,4).

Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh. 14:5-6). Pertanyaan Tomas itu amat manusiawi. Tomas sebagai murid Yesus saat itu juga tidak tahu kemana Yesus akan pergi. Jadi bagaimana dia bisa datang kepada Yesus? Maka sebagai murid Yesus Tomas harus mendengarkan petunjuk-Nya, karena Yesuslah satu-satunya yang tahu jalan menuju ke rumah Bapa. Yesus jugalah yang menunjukkan jalan saat kita menjalani kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan hidup saya? Apakah dalam kehidupan sehari-hari, saya sebagai murid Yesus juga percaya kepada Yesus? Percaya kepada tuntunan-Nya baik di dalam keluarga, pekerjaan, maupun di dalam pelayanan saya? Ternyata saya masih belum taat pada tuntunan-Nya, dan akibatnya saya menjadi khawatir. Tetapi melalui sabda-Nya: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yoh. 14:1), saya percaya Tuhan akan membantu saya dalam menghadapi segala persoalan.

Suatu saat saya digerakkan oleh Tuhan untuk pergi ke Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) pada hari Selasa pagi, padahal biasanya saya pergi ke SEP pada sore hari. Saya berpikir bahwa Tuhan Yesus menyuruh saya untuk mendampingi dan menyapa para pendamping lectio divina (PLD) dan pendamping kelompok sharing (PKS) yang bertugas saat itu. Saat berpakaian, saya pilih memakai baju kaos SEP, tapi saat itu Tuhan seakan mengarahkan saya untuk memilih baju batik, namun saya berpikir bahwa saya tidak sedang bertugas mengajar jadi lebih baik saya memakai baju kaos saja yang terasa lebih nyaman.

Ketika tiba di SEP ternyata saya diminta menggantikan pengajar lain yang tidak bisa hadir untuk mengajar. Pada saat akan mengajar saya merasa kurang percaya diri karena menyadari bahwa saya seharusnya memakai baju yang lebih pantas. Maka saya berdoa dan mohon pertolongan Tuhan Yesus, dan ternyata Tuhan tetap menolong saya, sehingga pada saat mengajar saya bisa tenang dan tetap fokus dalam menyampaikan pelajaran. Pengajaran pun berjalan dengan lancar karena Yesus mendampingi saya. Terima kasih Tuhan Yesus.

Semoga kita semua selalu taat pada bimbingan Tuhan Yesus dan semoga Tuhan memberkati kita semua. (KSM)