Persiapan Paskah

Renungan Minggu 7 Maret 2021, Hari Minggu Prapaskah III

Bacaan: Kel. 20:1-17; Mzm. 19:8,9,10,11; 1Kor. 1:22-25; Yoh. 2:13-25.

Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya (Yohanes 2:15)

Sejak dilahirkan, setiap manusia mempunyai kemampuan untuk marah disertai pengungkapan rasa kemarahannya. Marah itu manusiawi, sah dan normal, sejauh demi tujuan yang benar dan dengan cara yang tepat, bukan sekedar reaksi pelampiasan atas nama otoritas. Kita semua pernah marah dan juga pernah kena marah.

Kutipan Injil di atas menggambarkan Yesus yang marah. Kemarahan-Nya beralasan. Ia membersihkan Bait Suci dari praktik duniawi. Dikisahkan ketika menjelang hari raya Paskah orang Yahudi, orang-orang berdatangan ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Dengan alasan praktis, mereka tidak membawa sendiri hewan korban persembahan, tetapi membeli dari para pedagang dan penukar uang di halaman luar Bait Allah yang boleh dimasuki orang bukan Yahudi. Yesus melihat banyak orang berdagang di pelataran itu. Bait Allah dibangun untuk menjadi pusat pengembangan kerohanian umat, bukan pusat ekonomi. Yesus menghamburkan uang pedagang-pedagang tersebut. Yesus sudah tidak tahan lagi dengan banyak orang Yahudi yang tidak memfungsikan Bait Allah sebagaimana pantasnya. Bait Allah bukannya menjadi tempat pertumbuhan iman umat, tempat sakral orang berdoa, memuji Allah dan mendengarkan sabda Tuhan dengan tenang, tetapi para pejabat Bait Allah justru menjadikan tempat yang hiruk-pikuk dengan kegiatan transaksi dagang mencari keuntungan pribadi.

Dari bacaan hari ini, Tuhan mengingatkan kita bahwa dengan tindakan-Nya itu Ia menunjukkan bahwa Tuhan Yesus masih tetap sama baik dahulu maupun sekarang. Pembersihan Bait Allah tersebut adalah simbolisasi penyucian hati kita dari kepentingan-kepentingan lain yang dapat menjauhkan kita dari kesatuan dengan Kristus. Ia masih tetap berkenan membersihkan segala cacat jiwa kita, sejauh kita menyambut uluran tangan-Nya.

Dalam masa Prapaskah ini, kita murid-murid Kristus, marilah bersama-sama dengan mohon bimbingan dan kekuatan Roh Kudus. Melalui sabda-Nya kita berusaha menahan diri dari segala perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Marilah kita mengarahkan tindakan senantiasa mengacu kepada kehendak Allah supaya Tuhan tidak lagi harus membuat cambuk dari tali untuk kita.

Doa

Tuhan Yesus ampunilah aku yang masih sering marah hanya karena merasa mempunyai kekuasaan tanpa melihat tujuan dan caranya. Jangan biarkan aku sibuk bertransaksi hal-hal lain selain belajar dari sabda-Mu dan menjalani sisa hidup ini dengan berjalan hanya menuju kepada-Mu. Amin. (LKME)