Peka

Renungan Senin 8 Maret 2021

Bacaan: 2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; 43:3,4; Luk. 4:24-30

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. (Lukas 4:24)

Dalam bacaan Injil yang kita renungkan hari ini, diceritakan bagaimana Yesus yang mengalami penolakan. Yesus juga merasa diri-Nya tidak diterima oleh orang-orang pada waktu itu.

Dalam Lukas 4:24, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Yesus mengambarkan tugas-Nya di dunia ini ingin menyelamatkan manusia dengan tindakan-tindakan kasih-Nya. Tetapi apa yang terjadi, Ia pun tidak diterima oleh orang-orang pada waktu itu. Yesus dengan tegas dalam bacaan Injil,  Ia membandingkan orang-orang pada waktu itu dengan orang-orang yang juga dihadapi oleh Elia dan Elisa.

Pada zaman Elia, ada banyak perempuan janda di Israel, tetapi Elia hanya diutus pada satu orang janda di Sarfat, di tanah Sidon.

Dan pada zaman Nabi Elisa, banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain Naaman, orang Siria.

Pesan yang ingin disampaikan Tuhan pada Injil hari ini yaitu Yesus diutus ke dunia untuk menyelamatkan manusia, untuk menyelamatkan saya. Tetapi kerap kali saya yang disebut sebagai orang yang percaya pada Tuhan, tidak percaya bahkan menolak kehadiran-Nya di setiap pengalaman hidup saya.

Saya sering berharap membangun iman melalui peristiwa atau orang-orang yang luar biasa. Karena itu kadang saya sering mengabaikan orang-orang di sekeliling saya atau kejadian sederhana dalam hidup saya. Padahal Tuhan mau berbicara kepada saya melalui mereka atau peristiwa sederhana tersebut. Saya sering berharap untuk  mendengar dan melihat yang jauh, tetapi lalai untuk memperhatikan apa yang ada di sekitar saya, termasuk tidak peka terhadap diri sendiri.

Tuhan sudah berbuat banyak dalam hidup saya, dan saya tidak mensyukurinya karena tidak peka, abai melihat dan mendengarkan Tuhan dalam kehidupan saya sehari-hari.

Refleksi diri:

Apakah dalam kehidupan saya suka memberi ‘cap’ pada orang?

Pernahkah saya menolak orang lain, menolak pendapat orang lain, atau bahkan menolak Sabda Allah dengan berbagai alasan?

Apakah saya sulit mengakui kelebihan orang lain?

Apakah saya dengan mudah atau sulit untuk menerima dan menghargai orang lain, jika pendapatnya beda dengan saya?

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? (Mazmur 42:2-3)

Hari ini saya diajak untuk mau berubah. Pertama-tama untuk perubahan diri saya sendiri, untuk dapat selalu bersyukur untuk setiap kejadian sederhana dan melalui orang-orang yang sehari-hari bersama dengan saya. Saya diajak untuk menerima diri saya sendiri. Untuk menyadari bahwa saya rapuh, saya tidak berdaya. Dan oleh karena kasih Allah-lah, saya dimampukan untuk menjadi anak-anak pilihan-Nya dan saya diajak untuk berbagi kasih kepada orang lain.

Mari pada masa Prapaskah ini, kita melihat karya Allah yang hadir dalam hidup kita. Dan kita menerima karya Allah sebagai karya yang penuh belas kasih, sehingga hati kita pun digerakkan untuk berbelas kasih kepada sesama terlebih kepada yang membutuhkan.

Doa:

Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk peka melihat dan mendengarkan kehadiran-Mu dalam keseharianku, melalui peristiwa dan orang yang sehari-hari bersamaku. Amin.

Kasih dan damai sukacita Tuhan Yesus senantisa melimpah untuk kita semua. Amin.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati. (RE)