Iri Hati

Renungan Sabtu 6 Maret 2021, Hari Biasa Pekan II Prapaskah.

Bacaan: Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Luk. 15:1-3,11-32.

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.” (Lukas 15:29)

Keberhasilan adalah anugerah Tuhan. Kita tidak dapat mencapai keberhasilan tanpa uluran tangan Tuhan. Contoh campur tangan Tuhan yang paling nyata adalah hidup dan bakat atau kemampuan yang kita miliki. Karena itu merayakan keberhasilan kita juga berarti merayakan campur tangan Tuhan dalam hidup kita.

Melalui bacaan hari ini kita diajak untuk ikut bergembira dan bersukacita atas keberhasilan hidup orang lain. Entah keberhasilan dalam studi, karier, keluarga, hidup rohani dan lain-lain. Kalau kita jujur dalam hidup setiap hari, kita sering kali iri hati terhadap keberhasilan dan perkembangan orang lain. Kita tidak bisa menerima kalau orang lain lebih berhasil dari pada kita. Ada berbagai bentuk dan model pengungkapan iri hati itu. Karena itu hendaknya kita selalu waspada agar kita tidak selalu jatuh dalam dosa iri hati.

Masalahnya seringkali kita tidak pernah puas dengan diri sendiri dan keadaan ini merampas kebahagiaan hidup kita. Berpikir positif merupakan tantangan yang besar bagi kita dalam praktik hidup sehari-hari. Ada kecenderungan kuat dalam diri kita untuk memberi cap negatif atas diri orang yang telah bersalah, padahal dengan melekatkan cap itu, kita membiasakan diri untuk berpikir negatif. Hati yang selalu berpikir negatif akan memandang dunia dengan curiga. ‘Positive thinking’ akan sangat membantu kita dalam membangun kebahagiaan dan sukacita diri pribadi.

Doa

Allah Roh Kudus tolong pimpin aku terus agar selalu berpikir positif baik terhadap diriku sendiri, maupun terhadap orang lain. Amin. (MLEN)