Tersesat Hatinya

Renungan Senin 15 Februari 2021

Bacaan: Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13

Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” (Markus 8:12)

Kemarin Injil hari Minggu bercerita tentang Yesus dengan hati-Nya yang berbelas kasih mentahirkan orang kusta. Tetapi hari ini muncul orang-orang Farisi yang mau bersoal- jawab dengan Yesus, ingin mencobai Dia, dan meminta dari pada-Nya suatu tanda dari surga.

Yesus mengeluh dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali- kali tidak akan diberi tanda.”

Sesungguhnya hampir setiap hari Yesus membuat mukjizat menyembuhkan banyak penyakit, mencelikkan orang buta, yang lumpuh dibuatnya bisa berjalan dan yang kusta ditahirkan. Sangat mengherankan kekerasan hati orang Farisi, yang masih meminta tanda dari surga.

Tidak salah kalau sekarang ini setiap hari gereja mengingatkan kita umat- Nya dalam doa brevier ibadat pagi harian:

Hari ini dengarkan suara-Nya: “Jangan bertegar hati seperti di Meriba, seperti di Masa, di Padang gurun; ketika leluhurmu mencobai Aku, walaupun menyaksikan karya-Ku yang agung. Empat puluh tahun Aku muak akan mereka itu; maka Aku berkata: Umat ini tersesat hatinya, mereka tidak mengerti maksud bimbingan-Ku….”

Teguran hari ini sungguh menggugah hati saya. Betapa banyaknya kasih Tuhan yang tercurah dalan kehidupan saya; mengapa saya masih kurang percaya? Mengapa iman saya masih iman kekanak-kanakan, tidak bertumbuh dewasa? Doa-doa saya masih doa minta dan minta terus?

Dua hari lagi kita memasuki Prapaskah. Saya berjanji dalam Prapaskah saya akan memperbaiki gaya hidup rohani lebih dewasa dalam iman, memiliki hati yang berbelas kasihan kepada orang yang berkekurangan/tersingkir. Berjanji kepada Yesus untuk mengikuti kehendak-Nya, bukan mengikuti kehendak diri saya sendiri (egois). Berani berkorban dalam mengasihi sesama. Selalu berdoa mohon kerendahan hati dan lemah lembut, juga mohon rahmat pengendalian diri akan kedagingan dan keduniawian.

Semoga teguran firman Tuhan Yesus menyadarkan saya dan saya bisa memasuki Prapaskah ini dengan hati yang tulus dan tetap gembira melakukan firman-Nya.

Doa: Tuhan Yesus, berilah kami rahmat-Mu dan urapilah kami dengan Roh Kudus-Mu, agar kami tidak bertegar hati, keras kepala dan bebal, melainkan kami selalu belajar rendah hari, hidup tulus, setia, dan berani berkorban mengikuti kehendak-Mu. Doa ini kami panjatkan demi Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. (VAD)