Sambut Dia dan Bertobatlah

Renungan Rabu 24 Februari 2021, hari biasa, Pekan I Prapaskah

Bacaan: Yun. 3:1-10; Mzm. 51:3-4,12-13,18-19; Luk. 11:29-32

Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. (Lukas 11:30)

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! (Lukas 11:32)

Melalui Bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengecam orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang menghendaki suatu tanda. Dengan keras dan tegas, Yesus mengatakan, “Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Luk. 11:29). Tanda Yunus adalah berita penghukuman bagi orang-orang Niniwe bila mereka tidak mau bertobat. Orang-orang Niniwe yang jahat segera bertobat serta menyesali dosa-dosa mereka.

Terasa sekali, perkataan-Nya yang keras dan tegas hari ini ditujukan kepada diri saya. Benar-benar Ia ingin agar saya selalu menyediakan waktu untuk menyambut diri-Nya,  mendengarkan-Nya, dan terus menerus bertobat. Menyambut diri-Nya sebagai Anak Manusia, tanda kehadiran Allah menjadi manusia yang datang untuk menyelamatkan saya dan banyak orang. Mendengarkan hikmat perkataan-Nya. Bertobat dari yang jahat seperti yang dilakukan orang-orang Niniwe.

Ajakan-Nya kepada saya untuk bertobat, dimulai dari peristiwa kecelakaan lalu lintas di dekat Indramayu. Mobil yang saya tumpangi menabrak truk. Saya luka berat, tergeletak di rumah sakit hampir satu bulan. Ketika itu cerita dan sharing teman-teman kantor tentang Tuhan Yesus yang penuh kasih, Allah yang hidup, bergema di hati dan pikiran saya. Dulu saya sering kesal mendengar sharing dan ajakan mereka untuk “berjumpa dengan Tuhan Yesus”. Saya anggap mereka menyita waktu saya. Namun Tuhan Yesus sungguh mengasihi saya. Dalam keadaan tergeletak, Ia menarik saya mendekat kepada-Nya, mengajak saya membuka hati dan pikiran, merenungkan kembali kesaksian teman-teman. Ia mengalirkan kasih-Nya dan menyadarkan saya, Tuhan Yesus adalah Allah yang hidup. Karena Ia hidup maka Ia memberi kesempatan kepada saya untuk hidup.

Dari pengalaman itulah saya mulai berpaling dan berjalan menghampiri-Nya. Proses pertobatan saya dimulai. Ada banyak hal luar biasa diberikan-Nya kepada saya agar saya melekat erat kepada-Nya. Ia memindahkan saya dari Jakarta ke Surabaya. Di kota ini Ia memberi saya kesempatan untuk terus menerus melakukan pertobatan dengan mengikuti pengajaran dan bergabung di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP). Dalam keluarga besar pengajar SEP yang guyub, rukun, saling menguatkan satu sama lain inilah saya diproses untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan, dan kasih.

Doa:

Terima kasih Tuhan Yesus atas kesempatan untuk hidup dan bertobat yang Engkau berikan kepada saya. Itu semua karena anugerah-Mu begitu besar dan luar biasa. Bimbing terus diri saya agar setia mengikuti-Mu, tidak meninggalkan Engkau di dalam keadaan apapun juga, sungguh-sungguh mengandalkan Engkau, taat melakukan kehendak-Mu, serta tidak pernah berhenti membagikan kasih-Mu kepada banyak orang. Agar mereka juga dapat mengalami perjumpaan dengan Engkau sebagai Sang Juru Selamat dalam hidup mereka. Amin.

Tuhan memberkati. (SET)