Kebahagiaan Sejati

Renungan Minggu 28 Februari 2021, Hari Minggu Prapaskah II

Bacaan: Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18; Mzm. 116:10,15,16-17,18-19; Rm. 8:31b-34; Mrk. 9:2-10

Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (Markus 9:7)

Semua orang tanpa terkecuali pasti mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Tetapi sebagian besar orang akan menilai dan mengukurnya dari sisi materi atau apa yang terlihat secara kasat mata. Kita berpikir jika seseorang bergelimang harta benda, memiliki rumah dan mobil mewah, terkenal seperti selebriti atau berpangkat tinggi, maka hari-hari yang dijalani pasti dipenuhi oleh gelak tawa dan kebahagiaan. Benarkah demikian? Faktanya tidaklah demikian. Banyak orang kaya dan terkenal yang hidupnya merana dan tidak bahagia. Sebab bahagia yang dunia tawarkan adalah semu, tak abadi. Sekalipun memiliki semuanya (uang, harta, popularitas, pangkat), tidak menjamin seseorang hidup bahagia.

Sahabat, hari ini kita diajak untuk selalu bahagia apapun kondisi kita, susah, senang, sakit, sehat, berlimpah harta, ataupun dalam kondisi kekurangan, dalam persoalan maupun tidak dalam persoalan. Kita diajak untuk  selalu bahagia. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menyadari, melihat, memperhatikan, merasakan, dan meyakini adanya  kemuliaan Allah. Di dalam setiap peristiwa yang terjadi, bahkan di dalam peristiwa yang sama sekali tidak kita inginkan, Allah pasti akan menyatakan kemuliaan-Nya.

Bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita dua cara, agar kita bisa menyadari, melihat, menyaksikan, merasakan, dan menikmati kemuliaan Tuhan dalam hidup kita, apapun keadaan dan kondisi kita.

  1. Menyendiri bersama Tuhan (Markus 9:2).

Kita diajak untuk menyendiri bersama Tuhan di tengah kesibukan sehari-hari kita. Menjauhkan diri dari keramaian dan hiruk-pikuk yang ada, merenung, berefleksi, dan bercakap-cakap dengan Tuhan. Kita bisa menenangkan diri ketika hati sedang galau, pikiran kacau dan banyak masalah, dan bisa menjernihkan pikiran, serta bisa menggumuli setiap hal yang kita alami bersama Tuhan. Ia akan senantiasa hadir menolong dan memberkati kita bahkan rasa syukur dapat meluap di dalam hati kita (Mazmur 116:17). Tuhan pun akan menguatkan kita untuk terus melakukan kebaikan, dan dalam segala keadaan, awan kasih dan perlindungan-Nya yang menaungi Petrus, Yakobus, dan Yohanes juga akan menaungi kita, sehingga kita tahu apa yang harus kita perbuat.

  1. Dengarkanlah Tuhan Yesus (Markus 9:7).

Dalam peristiwa Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung, atau yang dikenal dengan sebutan transfigurasi itu ada suara yang berseru: “Inilah anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”. Melalui perkataan tersebut, Tuhan menghendaki agar Petrus dan para murid tetap percaya kepada Tuhan, tidak perlu takut ataupun khawatir. Meskipun penderitaan dan kesusahan ada di depan mata (Roma 8:31b),  mereka diminta untuk mendengarkan Tuhan Yesus, mengikuti jalan yang ditunjukkan-Nya. Meskipun harus mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki, seperti yang pernah dialami Abraham (Kejadian 22: 1-18), kita perlu meminta tuntunan Tuhan untuk hidup benar di hadapan-Nya. Oleh karena itu, dengarkanlah Dia, dengarkanlah Tuhan. Ketika kita hidup benar, Tuhan akan memproses kita untuk mencapai kebahagian yang sejati. Jadi siapa pun yang ingin mengalami dan menikmati kebahagiaan dalam hidupnya, tidak ada jalan lain selain harus datang kepada Tuhan sumber kebahagian sejati.

Sahabat, mari kita melakukan “MD”, “M” menyendiri bersama Tuhan dan “D” dengarkan Tuhan, agar apa? Agar kita dapat senantiasa merasakan, melihat, menyaksikan, dan menikmati kemuliaan Tuhan dalam segala keadaan kita. Dan dari situ, kita bisa senantiasa berbahagia. Berbahagialah orang yang melihat kemuliaan Tuhan. Amin.

Tuhan Yesus memberkati. (FHM)