Tanggung Jawab Murid Kristus

Renungan Hari Minggu 24 Januari 2021, Hari Minggu Sabda Allah

Bacaan: Yun. 3:1-5,10; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; 1Kor. 7:29-31; Mrk. 1:14-20

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Markus 1:17)

Yesus memulai tugas pewartaan kabar gembira dengan mengikutsertakan manusia. Dia memanggil para murid untuk mengikuti Dia dan menjadikan mereka penjala manusia. Para murid pertama itu yang bekerja sebagai nelayan sekarang bekerja sebagai nelayannya Yesus untuk menjaring manusia masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Para murid itu serta merta meninggalkan keluarganya dan mengikuti Yesus. Mungkin ada orang yang berpikir bahwa Simon dan Andreas serta Yohanes dan Yakobus tidak mempertimbangkan secara matang ketika memutuskan mengikuti Yesus. Baru saja bertemu Yesus mereka sudah meninggalkan segalanya lalu mengikuti Dia. Semangat sesaat? Tidak! Mereka terus berkembang dalam panggilan itu.

Bagaimana dengan Anda dan saya? Apakah kita memilih seperti murid-murid pertama yang meninggalkan jala, pekerjaan, keluarga mereka, demi mengikuti Yesus? Ataukah kita lebih memilih untuk tidak ikut ambil bagian dalam pelayanan apapun demi semua milik kita (keluarga, pekerjaan, karir, hobi) yang kita anggap paling berharga dalam hidup kita?

Kita harus seperti murid-murid pertama, mewartakan Injil dan pertobatan kepada umat manusia. Kita semua mempunyai tanggung jawab misioner yang sama yakni pergi mewartakan Injil Suci dalam setiap kesempatan yang kita alami dan jalani. Untuk itu diperlukan iman yang kokoh dari kita untuk bisa setia kepada-Nya.

Yesus itu luar biasa. Ia memanggil para murid-Nya tanpa memberi kriteria tertentu, misalnya harus tamat SMA, pandai bicara, pandai berorganisasi, dan lain sebagainya, sehingga pengikut Kristus di zaman moderen ini sangat variatif. Ada yang berpendidikan tinggi, ada yang menengah dan ada yang buta huruf. Yesus tahu bahwa hidup manusia akan terbentuk secara baik, kalau kepadanya diberikan contoh-contoh hidup yang menyentuh inti hatinya. Hal ini terbukti setelah para murid bersama Yesus, mereka semua tidak diberi pelajaran seperti di sebuah sekolah. Yesus lebih banyak memberikan teladan dalam hal berdoa, mengajar dan mengungkapkan perbuatan kasih dengan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Dengan melakukan hal seperti ini, Yesus yakin bahwa pendidikan dan contoh hidup yang baik, akan jauh lebih efektif membentuk karakter hidup seseorang daripada diberi berbagai teori, tanpa disertai contoh hidup yang baik.

Setiap orang yang mengaku murid-Nya dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Sebagai pengikut Kristus kita juga perlu mengakui perbedaan di antara kita sebagai kekuatan untuk melayani Dia, sesuai dengan talenta dan potensi yang dianugerahkan kepada kita masing-masing. Tuhan memberkati. (LF).