Spiritualitas Bunda Maria

Renungan Jumat 1 Januari 2021 – Hari Raya Santa Maria Bunda Allah

Bacaan: Bil. 6:22-27; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Gal. 4:4-7; Luk. 2:16-21.

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (Lukas 2:19)

Selamat Tahun Baru! Hari ini gereja merayakan Santa Maria Bunda Allah sekaligus Hari Perdamaian Sedunia. Di awal tahun baru 2021 ini, kita diajak mengawali langkah hidup kita dengan bersyukur kepada Tuhan atas karya keselamatan-Nya dengan memilih Maria sebagai Bunda Penebus dan memulai tahun ini dengan menebarkan perdamaian. Kata “perdamaian” yang dimaksudkan dalam hal ini bukan hanya menunjuk kepada situasi yang tenang, aman, tidak ada konflik atau perang, tetapi juga mengacu kepada suasana hati yang harus diupayakan untuk tetap menjadi tenteram dan damai, sekalipun berada di antara musuh atau orang-orang yang berlaku jahat dan membenci kita bahkan dalam situasi dan kondisi yang tidak mengenakan sekalipun. Mampukah kita?

Sahabat, berkat Tuhan adalah pasti bagi orang yang takut akan Dia. Berkat Tuhan juga pasti bagi orang yang mau melakukan sesuatu bagi Tuhan: “supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.” (Mazmur 67:3). Semoga kita tetap bersandar pada keyakinan iman bahwa: “Tuhan memberkati dan melindungi engkau; menyinari dengan wajah-Nya dan memberi kasih karunia; Ia memberi damai sejahtera.” (Bil.6: 22-27).  

Berkat dan perlindungan Tuhan ini semakin dinyatakan secara penuh dalam diri Anak-Nya. Kita menjadi ahli waris karena boleh berseru “Abba, ya Bapa” kepada Allah kita.(Gal. 4:6-7). Anak-Nya itu adalah Yesus, seperti ditegaskan dalam Injil, “Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh Malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” Dan melalui Yesus Kristus kita beroleh kasih karunia dan diselamatkan!

Pesan Injil hari ini jelas, kita diajak untuk senantiasa mengembangkan rasa syukur atas kasih karunia yang Tuhan limpahkan pada setiap langkah hidup kita dan membawa damai dalam setiap tutur kata dan tindakan kita. Untuk itu, spiritualitas yang hendaknya menjadi landasan adalah spiritualitas Bunda Maria, “menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya.”

Di zaman digital ini, jejaring sosial begitu banyak dan luas, orang begitu saja mudah membagikan berita apa saja tanpa disaring dan dipikir terlebih dulu. Ujung-ujungnya menjadi hoax, provokasi dan ujaran kebencian. Kalau demikian, bukannya damai yang dihasilkan tetapi justru sebaliknya, yaitu perpecahan, pertengkaran dan perselisihan. Itu berarti yang berkembang adalah budaya kematian dan bukan budaya kehidupan.

Sahabat, dengan spiritualitas Bunda Maria ini, hendaknya kita membiasakan diri untuk menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya sehingga tidak gegabah; tidak tergesa-gesa dalam bertindak, serta tidak asal-asalan dalam bicara. Dengan demikian, kita berharap bisa menumbuh-kembangkan budaya kehidupan yang penuh damai dan tetap menyebarkan cinta kasih. (FHM)