Perintah Berpuasa

Renungan Senin 18 Januari 2021, Hari Biasa

Bacaan: Ibr. 5:1-10; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 2:18-22.

Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (Markus 2:20)

Shalom saudaraku terkasih, bacaan hari ini mengajarkan kepada kita dalam hal berpuasa. Puasa itu bukanlah hanya suatu kebiasaan ataupun aturan turun-temurun. Puasa itu berasal dari hati, dan tujuan dari berpuasa harus jelas, yaitu melatih kita. Kita pun dituntut untuk berpuasa. Hendaknya puasa yang kita lakukan bukan menjadi penghalang kita dalam mencintai, akan tetapi semakin mendekatkan kita pada Tuhan.

Puasa bukan hanya sekedar persoalan tidak makan atau tidak minum. Puasa juga bukan hanya melepaskan sejenak kelekatan-kelekatan yang selama ini kita miliki. Puasa tidak hanya membebaskan diri dari hal-hal yang kita senangi. Puasa berarti juga mau dan mampu menerima hal-hal baru yang baik dan yang menyelamatkan. Menerima hal yang baru berarti harus siap berbenturan dengan kenyamanan lama yang selama ini ada dalam diri kita. Menerima hal yang baru berarti juga dibutuhkan kerendahan hati yang mendalam. Puasa yang hanya diartikan tidak makan dan minum adalah puasa yang hanya dilihat secara jasmani saja, bukan dalam arti rohani.

Menurut Injil Markus hari ini, berpuasa berarti suatu pengharapan akan persatuan yang penuh dengan Yesus yang akan datang. Gereja juga memerintahkan kepada seluruh umat-Nya agar menjalankan perintah berpuasa. Perintah tertulis dalam ‘Perintah Gereja’ kelima yang berbunyi:

Engkau harus menaati hari puasa wajib; yang berarti penyangkalan diri dan pertobatan dan mempersiapkan kita menang atas hawa nafsu dan memperoleh kebebasan hati.

Selamat pagi Tuhan Yesus memberkati. (SN)