Berbuat Baiklah Selalu

Renungan Rabu 20 Januari 2021

Bacaan: Ibr. 7:1-3,15-17; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 3:1-6.

Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. (Markus 3:4).

Sering kali kita melihat suatu peristiwa sesuai dengan sudut pandang kita. Sehingga banyak kebaikan-kebaikan yang seharusnya bisa kita lihat menjadi tidak terlihat. Padahal jika kita mau melihat dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa mengetahui bahwa tidak semua pandangan dan penilaian kita terhadap sesuatu itu selalu benar dan dapat diterima oleh orang lain. Pada Injil hari ini Tuhan Yesus berkata: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa atau membunuh orang?” Kalimat ini sungguh menyentuh terutama di masa seperti ini.

Kita sering kali takut berbuat baik, takut menolong orang, takut mewartakan kabar gembira, karena memikirkan pandangan orang lain jika kita melakukan kebaikan-kebaikan tersebut, juga mungkin karena terikat oleh adat atau peraturan. Namun pada hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita untuk lebih peka terhadap lingkungan dan jangan pernah takut untuk menolong dan berbuat baik terhadap sesama, yang terpenting adalah kita sudah melakukan yang terbaik dan sudah melakukan apa yang kita mampu, soal pandangan orang terhadap kita itu urusan mereka, bukannya kita menjadi acuh terhadap omongan orang, namun bisa lebih menyaring dan mengambil hal-hal yang positif.

Saya sebagai ketua stasi di Gandusari punya pengalaman, di masa pandemi ini semua serba sulit, apalagi dengan meningkatnya jumlah korban Covid-19, maka sejak tanggal 11 sampai 25 Januari 2021 di wilayah Jawa Timur, termasuk Blitar diberlakukan ‘Pembatasan Kegiatan Masyarakat.’ Hal ini membuat kegiatan peribadatan juga mengalami pembatasan, tempat ibadah boleh digunakan dengan kapasitas 50% dari kapasitas, sehingga diputuskan gereja stasi tetap melaksanakan peribadatan dengan jumlah umat yang hadir 50% dari kapasitas gedung gereja. Untuk itu kami membatasi umat yang boleh hadir dalam peribadatan mulai anak yang sudah menerima komuni pertama sampai umat yang berusia 60 tahun. Maksud kami adalah mematuhi peraturan pemerintah, dan berpartisipasi dalam pencegahan penyebaran virus Covid-19. Namun ternyata keputusan ini juga tidak bisa diterima umat dengan mudah, bahkan ada umat yang beranggapan bahwa mentang-mentang jadi ketua stasi bisa melarang orang untuk ke gereja. Padahal informasi pembatasan ini sudah disosialisasikan melalui grup WA umat dan juga melalui ketua lingkungan masing-masing. Ternyata memang benar, tidak semua tujuan baik bisa diterima dengan baik, namun begitu kita tidak boleh berhenti berbuat baik, seperti Tuhan Yesus, walaupun di mata orang-orang Farisi perbuatan itu tidak benar, Tuhan Yesus tetap menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Meneladan Yesus, apapun yang terjadi, tetaplah berbuat baik.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih atas teladan yang Engkau berikan, kami mohon berilah kami kekuatan agar tetap mampu berbuat baik bagaimanapun situasi dan kondisinya, Amin. (FXG)