Apakah Yesus Menyembuhkan?

Renungan Rabu 13 Januari 2021

Bacaan: Ibr. 2:14-18; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Mrk 1:29-39

Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. (Markus 1:31)

Kalau Yesus menyembuhkan, mengapa banyak orang beriman (para klerus) yang meninggal? Apakah mereka yang meninggal tidak beriman?

Dalam rahmat kesembuhan yang diberikan oleh Tuhan perlu dibedakan antara kesembuhan jasmani dan kesembuhan rohani. Yesus datang ke dunia bukan untuk memberikan kesembuhan jasmani, melainkan untuk memberikan kesembuhan rohani, yaitu pembebasan manusia dari belenggu dosa. Kalaupun Yesus menunjukkan mukjizat kesembuhan jasmani, ini dilakukan-Nya untuk menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan, yang menjadi pemenuhan nubuat para nabi (Yes 35:6).

Mukjizat kesembuhan fisik adalah untuk membawa orang kepada kesembuhan rohani. Orang yang mengalami kesembuhan fisik tetapi tidak membawa pertobatan kepada Tuhan adalah tidak berguna. Kesembuhan rohanilah yang akan membawa orang ke surga. Dan inilah maksud utama dari inkarnasi, yaitu memberikan kesembuhan rohani melalui karya penebusan Kristus, sehingga berkat-berkat dicurahkan dan membuat orang mampu untuk berkata tidak terhadap dosa.

Apakah kalau kita beriman berarti kita telah sembuh 50%?

Dalam kesembuhan fisik, semuanya terserah Tuhan, karena Tuhan yang tahu persis apakah dengan kesembuhan tersebut akan mendatangkan keselamatan (kesembuhan rohani). Baik seseorang percaya hanya 10% atau 100% tidak otomatis bahwa ia akan mendapatkan kesembuhan fisik. Namun Tuhan juga dapat menyembuhkan seseorang dari penyakit fisik, walaupun orang tersebut kurang beriman, sejauh itu baik untuk keselamatan orang tersebut atau orang lain. Kita dapat belajar dari para orang kudus, seperti St. Teresa kanak-kanak Yesus, yang dengan tabah menghadapi penyakit tuberkulosis. Namun mereka tahu, bahwa bukan kesembuhan fisik yang terutama, melainkan kehidupan spiritual mereka. Dalam penderitaan mereka, para santa/santo menyatukannya dengan penderitaan Yesus di kayu salib. Kita juga diundang untuk melakukan hal yang sama.

Kesembuhan fisik tidak akan berarti apa-apa tanpa kesembuhan rohani.

Satu hal yang pasti, walaupun Tuhan tidak memberikan mukjizat kesembuhan fisik kepada semua orang, namun Tuhan menginginkan semua orang mengalami kesembuhan rohani, yang mengantar orang kepada kehidupan kekal. Dan ini hanya dapat dicapai dengan hidup kudus, seperti yang diperintahkan oleh Kristus sendiri yang berkata “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna(Mat 5:48).

Kita melihat perkataan Yesus “…supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” (Markus 1:38), Ia bukan mengatakan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Pesan dan ajaran Kristuslah yang terpenting, bukan kesembuhan jasmani, karena Dia diutus Bapa untuk menebus penyakit yang paling berbahaya, yaitu dosa.

Doa :

Tuhan Yesus Kristus, bila aku sukses di satu tempat, ajarlah aku supaya aku tidak menjadi sombong atau congkak melainkan jadikanlah hatiku seperti hatimu yang lembut dan rendah hati agar aku juga dapat menyebarluaskan kesuksesan itu ke seluruh penjuru dunia khususnya dalam hal mengedepankan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Terpujilah Engkau Tuhan kini dan sepanjang masa. Amin

Tuhan Yesus Memberkati. (SWK)

(Renungan dikutip dari www.katolisitas.org dan diedit disesuaikan untuk menjadi berkat)