Anak Yang Kukasihi

Renungan Minggu 10 Januari 2021, Pesta Pembaptisan Tuhan

Bacaan: Yes 55:1-11; Mzm Yes.12:2-3.4bcd.5-6; 1Yoh.5:1-9; Mrk.1:7-11.

Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Markus 1:11)

Masa pandemi, membuat keadaan berubah 180 derajat. Pekerjaan saya sebagai penjahit baju bayi juga mengalami penurunan yang cukup besar. Sehingga baju bayi buatan saya yang sudah diambil pedagang, dengan pembayaran mundur, semua dikembalikan dengan alasan titip dulu, karena tidak ada tempat. Hal itu membuat saya tidak berani produksi lagi.

Karena saya tidak memproduksi lagi, maka nasib para karyawan di ujung tanduk. Saya berpikir kalo saat ini saya memutuskan hubungan kerja (PHK) dengan mereka, maka mereka pasti bisa mengerti. Namun di lain pihak, saya berpikir, kalau mereka saya PHK, mereka akan makan apa kalau tidak bekerja, bagaimana dengan keluarga mereka, dan banyak hal lainnya.

Pergumulan ini saya bawa setiap hari di saat teduh saya. Setiap kali keinginan saya untuk memecat pegawai, saya merasa Tuhan menghalang-halanginya. Tuhan selalu mengingatkan saya akan janji-janji-Nya. Sabda-Nya selalu menguatkan dan memberi semangat kepada saya. Firman Tuhan yang mengatakan, “Kamu harus memberi mereka makan.” (Markus 6:37) mengingatkan saya bagaimana mukjizat itu terjadi ketika para murid melakukan apa yang Tuhan suruh. “Saya mau taat Tuhan, saya mau melakukan perintah-Mu.”

Meskipun tidak ada pemasukan dari pekerjaan saya, namun saya dapat menghemat dari uang bulanan saya. Saya bisa membayar gaji karyawan tiap bulan tepat waktu.

Iman tanpa perbuatan adalah mati, saya terus mencari apa yang bisa saya lakukan. Saya punya pegawai yang setia, mesin yang memadai, tempat kerja yang baik. Ketika saya melangkah dan berjalan dengan bimbingan Roh Kudus, Tuhan memberi sesuatu di luar pemikiran saya. Tuhan memberi pekerjaan yang saya sukai dan yang bisa dilakukan oleh karyawan saya. Pesanan datang terus-menerus, tidak berhenti sampai sekarang.

Dari peristiwa ini, saya dapat merasakan kasih Bapa yang mengatakan pada saya, “Engkaulah anak yang Kukasihi, padamu Aku berkenan.”

Tuhan begitu mengasihi saya, sehingga saya tidak pernah dibiarkan tergeletak dan kelaparan. Air mata saya terus mengalir melihat kasih Tuhan melimpah di hidup saya.

Terima kasih Bapa buat kasih-Mu. Terima kasih Tuhan buat firman-Mu. Terima kasih Roh Kudus buat tuntunan-Mu. Amin. (MY)