Waktu Tuhan

Renungan Kamis 24 Desember 2020

Bacaan: 2Sam. 7:1-5,8b-12,16Mzm. 89:2-3,4-5,27,29Luk. 1:67-79

Engkau telah berkata: “Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” (Mazmur 89:4-5)

Pada suatu saat, Raja Daud telah merasa mapan, menetap di rumahnya, karena Tuhan telah mengaruniakan kepadanya keamanan terhadap semua musuh sekeliling. Daud mempunyai kerinduan untuk membalas kasih Tuhan dengan mendirikan sebuah rumah untuk Tuhan.

Tetapi rencana Tuhan bukan rencana manusia. Melalui Nabi Natan, Tuhan menyatakan bahwa bukan Raja Daud yang akan mendirikan Rumah Tuhan. Tetapi putranya yang akan menggantikannya, yang telah dipilih Tuhan untuk membangun Rumah Tuhan. Bahkan Tuhan sendiri telah berkata dalam kitab Mazmur 89:4-5, “Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” (Mazmur 89:4-5)

Semuanya telah digenapi umat Israel di masa pemerintahan Raja Salomo. Tetapi seperti ada tertulis dalam sejarah Israel, bila mereka tidak memegang janji Tuhan dan tidak melaksanakan kehendak-Nya. Di mana mereka berpaling dari Tuhan, Bapa, Allah dan gunung batu keselamatan mereka, maka umat Israel akan mengalami keterpurukan.

Saat itu mereka sedang berada di bawah penjajahan orang Romawi. Kembali mereka merindukan, teringat akan janji Tuhan, dan menanti-nantikan janji Tuhan bagi umat-Nya, seperti yang telah dijanjikannya kepada Raja Daud.

Sebagai manusia sering saya juga tidak sabar dalam menanti-nantikan penyelesaian suatu masalah. Saat saya menantikan pemulihan kedua kaki saya dari suatu kecelakaan, yang membuat saya tidak dapat berjalan untuk beberapa bulan, rasanya hari itu ingin saya putar lebih cepat agar saya dapat jalan lagi. Demikian juga saat menantikan kelahiran cucu saya, putri saya sudah kesakitan, dokter belum juga datang. Saat itu hati saya ikut gelisah, suasana hati sangat kacau. Juga di saat pandemi COVID-19 ini, hati saya juga berteriak kepada Tuhan, kapan keadaan ini akan berakhir. Kalau mengingat begitu banyak orang menderita karena terkena PHK, terkapar karena COVID-19, bahkan banyak yang meninggal. Masih adakah secercah harapan dalam hati saya akan kasih setia Tuhan bagi umat manusia, seperti umat Israel yang selalu menanti-nantikan Janji Tuhan yang mampu menjadikan semua indah pada waktu-Nya? Mampukanlah saya berkata pada diri saya sendiri, seperti suami saya almarhum selalu berkata dengan sabar saat hadapi sesuatu: “Komt tijd komt raad” (pada saatnya pasti ada jalan keluar).

Doa: Syukur dan terima kasih Tuhan, Engkaulah Allah gunung batu keselamatanku, tempatku berharap. Besar kasih setia-Mu kepada umat-Mu. Dengan merayakan Natal besok tambahkanlah imanku bahwa Engkaulah Allah yang mampu menjadikan semuanya indah pada waktu-Mu. Amin. (JRW)