Taat dan Tulus Hati

Renungan Jumat 18 Desember 2020 – Hari Biasa Khusus Adven

Bacaan: Yer. 23:5-8; Mzm. 72:2,12-13,18-19; Mat. 1:18-24.

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, (Matius 1:24)

Dalam tatanan kedinasan baik sipil maupun militer, berlaku aturan bahwa staf atau bawahan wajib tunduk pada perintah atasan, kalau tidak patuh maka akan dikenakan sanksi atau hukuman. Ketaatan dan kepatuhan dibangun karena rasa takut dan khawatir, dan bukan karena kesadaran dan kerelaan hati. Tidak hanya dalam kedinasan, hampir semua tatanan masyarakat, termasuk dalam keluarga, mengikuti aturan tersebut, hanya saja aturan tersebut bersifat lisan, tidak tertulis dan tidak jelas dasar hukumnya.

Demikian juga dalam kehidupan rohani, ada aturan tersebut, di mana atasan/pemimpinnya adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri dan semua aturan beserta sanksi/hukuman sebagai konsekuensi pelanggaran, tertulis jelas dalam Kitab Suci, yang sekaligus sebagai dasar hukumnya. Namun saya mengakui bahwa melaksanakan ajaran dan aturan dalam Kitab Suci (yang adalah Sabda Tuhan sendiri) kadang lebih sulit dibandingkan melaksanakan aturan dalam dinas ataupun masyarakat. Bersyukur sekali hari ini Tuhan mengingatkan dan mengajak saya untuk belajar dari Santo Yusuf yang taat dan tulus hati.

Santo Matius dalam bacaan Injil hari ini, menuliskan dengan jelas bagaimana pergumulan hati Yusuf, anak Daud, seorang tukang kayu yang saleh dan sederhana, untuk mengambil suatu keputusan penting dalam hidupnya. Sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas dan harga diri, Yusuf mempunyai pilihan untuk membatalkan pertunangannya dengan Maria dan memilih wanita lain, tanpa takut terkena sanksi atau hukuman, karena demikianlah aturan/hukum yang berlaku saat itu, justru Maria yang akan menerima konsekuensi pencemaran nama baik karena aib yang diterima. Dan seandainya saat itu Yusuf menolak perintah Tuhan dan memilih untuk mempertahankan ego dan harga dirinya, tentunya dunia tidak seperti saat ini. Ternyata Yusuf memilih melaksanakan perintah Tuhan, yang disampaikan melalui malaikat-Nya, dengan mengambil Maria sebagai istrinya. Meski perjalanan hidup Yusuf dan Maria selanjutnya sangat berat dan penuh tantangan. Namun mereka sanggup menjalaninya. Kuasa Tuhan nyata bekerja dalam hati Yusuf, yang menggerakkannya untuk turut serta dalam karya keselamatan umat manusia.

Dalam kehidupan kita saat ini, di mana tuntutan kedagingan (ego, harga diri, pengakuan/eksistensi diri) begitu kuat menarik diri kita, dibutuhkan perjuangan dan komitmen yang tinggi, untuk dapat meneladan cara hidup Santo Yusuf. Dengan menjalin relasi dan komunikasi yang baik dengan Tuhan serta membuka hati terhadap karya Roh Kudus, kita bisa lebih mengenal dan percaya serta taat pada rencana dan bimbingan Tuhan. Semoga teladan Santo Yusuf, Bapa Gereja yang bijaksana, dewasa dalam iman, tulus hati dan taat, menginspirasi kita, agar layak menyongsong kedatangan Tuhan ke dunia, ke dalam hati kita.

Doa

Allah yang pengasih, kami mohon kemurahan-Mu, limpahkanlah rahmat dan kebijaksanaan-Mu agar kami menyadari kekurangan dan kelemahan kami dalam mananggapi sabda-Mu. Melalui kuasa Roh-Mu, mampukan kami untuk terus berusaha belajar meneladan cara hidup Santo Yusuf, umat yang Kau pilih menjadi bapa Yesus, meninggalkan kedagingan kami dan lebih mengasihi-Mu dengan taat, rela, setia dan sukacita melaksanakan ajaran dan perintah-Mu. Agar kami layak menyambut kedatangan Putra-Mu ke dunia. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami yang bersatu dengan Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin. (CEI)