Pertemuan Yang Membawa Sukacita

Renungan Senin 21 Desember 2020

Bacaan: Kid. 2:8-14 atau Zef. 3:14-18aMzm. 33:2-3,11-12,20-21Luk. 1:39-45

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus. (Lukas 1:41)

Seringkali kita lupa akan kehadiran Tuhan Yesus dalam kehidupan kita – merasa ditinggalkan, dan kemudian timbullah berbagai macam pertanyaan seperti: “Tuhan, di manakah Engkau?” “Tuhan, mengapa Kautinggalkan diriku?” dan banyak lagi macam pertanyaan lainnya. Mengapa timbul perasaan disertai berbagai pertanyaan ungkapan kerisauan hati kita, sedangkan, sesungguh-sungguhnya, Tuhan Yesus senantiasa hadir dalam hidup kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Diberkatilah mereka yang melihat dan mengenal Tuhan dengan “mata iman”.  “Diberkati” (makaros dalam bahasa Yunani); secara harafiah berarti “kegembiraan” atau “kebahagiaan” – yang menggambarkan suatu suasana (bukan sekadar perasaan) penuh sukacita disertai perasaan tenang yang tak terlukiskan dengan kata-kata, perasaan ‘kepenuhan’ (self-contained), dan sama sekali tidak terpengaruh dan dipengaruhi oleh keadaan sekitar ataupun berbagai peristiwa hidup.

Allah memberikan sukacita surgawi disertai pengharapan akan janji-Nya.

Saat merenungkan perjalanan iman Bunda Maria – terasa adanya sesuatu yang paradoksikal. Loh, Bunda Maria “diberkati” sebagai wanita yang dipilih untuk menjadi Bunda Kristus, kenapa hatinya sampai harus ditembus pedang ketika ia dengan setia mengikuti jalan salib Yesus sampai menyaksikan Yesus, anak yang dikandung dan dilahirkannya harus mati di salib?

Dipilih Allah merupakan suatu privilese (keistimewaan) sekaligus tanggung jawab yang besar dan berat. Bunda Maria menerima keduanya, mahkota sukacita dan salib dukacita, tetapi sukacitanya tidak berkurang meski dukacita yang dialami sangat menusuk hati. Mengapa – kok bisa ya? Iman, pengharapan dan kepercayaan yang kuat akan janji Allah membuat Bunda Maria mampu menerima dan menjalani semua rencana Allah dan menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Yesus menjanjikan kepada para murid-Nya bahwa “tak seorang pun yang dapat mengambil sukacita itu dari hatimu” (Yoh 16:22). Bagaimana cara kita membentenginya? Inilah tantangan kita di zaman now ini.

Lihatlah kedua wanita yang berjumpa ini – Maria yang dipenuhi sukacita dari Allah mengunjungi Elizabet. Apa yang terjadi? Keduanya dipenuhi sukacita.

Refleksi: apakah aku sudah memiliki sukacita dalam hidupku? Sudahkah kehadiranku membuat orang di sekitarku merasa nyaman, bahkan merasakan apa yang Elizabet alami? Sudahkah diriku membawa Kristus ke dalam kehidupanku sehari-hari, seperti slogan Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) St. Yohanes Penginjil Surabaya?

Doa:

Tuhan Yesus, penuhilah kami dengan Roh Kudus dan berikan kami sukacita yang membara untuk senantiasa setia mencari Engkau dengan lebih tekun dan sepenuh hati. Tambahkan iman kami untuk berani memegang teguh janji-Mu, pengharapan kami untuk menantikan sukacita surgawi, dan cinta kami agar mampu mencintai-Mu sebagai segalanya dalam hidup kami. (BMM)