Orang Buta Yang Percaya

Renungan  Jumat 4 Desember 2020 – Hari Biasa Pekan I Adven

Bacaan: Yes. 29:17-24; Mzm. 27:1,4,13-14; Mat. 9:27-31.

Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” (Matius 9:28)

Seperti banyak orang telah mengalami, ketika lampu dalam rumah tiba-tiba padam datanglah kegelapan meliputi. Dengan berjalan pelan dan kadang meraba-raba tetapi saya masih bisa dengan mudah mencapai tempat di mana lilin dan korek api berada. Bahkan andaikan harus menelusuri seluruh ruangan pun saya bisa. Ini karena setiap hari sudah akrab dan terbiasa dengan seluk-beluk ruangan dalam rumah. Berbeda ketika saya menginap di rumah teman dan tiba-tiba lampu padam, saya kebingungan tak tahu ke mana kaki harus melangkah.

Injil hari ini menceritakan kisah dua orang buta yang mengikuti Yesus untuk mendapat penyembuhan. Pengalaman lampu padam semalam saja sudah membuat hati tersiksa. Betapa kedua orang buta itu mengalami kegelapan setiap harinya. Saya yakin bahwa indra pendengaran dan insting yang kuatlah yang menuntun langkah mereka agar tidak terantuk batu ataupun terperosok ke dalam selokan. Melalui pendengaran, berusaha untuk memahami dan merasakan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Suara hiruk-pikuk yang mengelu-elukan Yesus, teriakan orang-orang sakit yang minta penyembuhan, perbincangan orang-orang sehat yang kagum dengan mukjizat-mukjizat Yesus, semua itu telah menggugah hati dan menguatkan iman mereka berdua untuk berjalan pelan menuju dan mengikuti Tuhan Yesus memohon kesembuhan.

Tentu butuh perjuangan yang tidak mudah bagi mereka yang  buta untuk bisa mencapai tempat di mana Yesus berada. Kerumunan orang banyak yang sama-sama mengikuti Yesus karena kepentingan masing-masing membuat kedua orang buta itu tersingkir sehingga harus berseru-seru, “Kasihanilah kami hai Anak Daud!” (Matius 9:27). Perjuangannya sungguh menunjukkan betapa besar keinginannya untuk sembuh. Betapa besar juga kepercayaannya bahwa Yesus pasti mampu menyembuhkan. Ini bukti bahwa iman mereka tidaklah buta seperti matanya. Orang beriman tahu pasti kepada siapa harus berpasrah diri. Kepada siapa harus datang untuk memperoleh penyembuhan dan keselamatan. Mereka begitu yakin, hanya kepada Yesus mereka harus datang. Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kalian bahwa Aku dapat menyembuhkannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya. Lalu Yesus menjamah mereka sambil berkata,”Terjadilah padamu menurut imanmu. (ayat 28-29). Maka meleklah mata mereka.

Dua orang buta yang mempunyai iman yang kuat, mencari dan datang kepada Yesus Sang Tabib Agung dan Juru Selamat. Kerja sama antara Allah dan manusia telah membuahkan mukjizat yang luar biasa. Saya harus belajar banyak dari iman kedua orang buta itu. Terlebih agar saya yang melek mata dan tidak buta terhadap kesembuhan dan penyelamatan yang ditawarkan secara cuma-cuma oleh Tuhan. Hanya butuh iman dan kesediaan membuka hati untuk menerima tawaran kuasa kasih keselamatan-Nya.

Doa

Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat manusia, syukur kami hunjukkan ke hadirat-Mu bahwa Engkau mau datang menawarkan kasih dan keselamatan kepada kami. Berikanlah kepada kami kerendahan hati untuk mau membuka diri kepada-Mu. Berikanlah kepada kami kekuatan iman agar kuasa-Mu bekerja  dalam diri kami, supaya kami pun mampu menyalurkan berkat-Mu kepada sesama. Amin. (MYM)