Jangan Berprasangka

Renungan Sabtu 12 Desember 2020

Bacaan: Sir. 48:1-4,9-11Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19Mat. 17:10-13

Aku berkata kepadamu: “Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka.” (Matius 17:12a)

Suatu saat teman saya pernah mengunjungi suatu rumah retret. Ketika ia dan istrinya telah sampai, ternyata rumah retret tersebut terdiri dari beberapa gedung dan mereka tidak mengetahui di mana kamar penginapan peserta. Saat mereka sedang melihat situasi, lewatlah seorang bapak separuh baya lalu teman saya menanyakan di manakah letak kamar peserta. Bapak tersebut menunjukkan sebuah gedung sambil mengatakan bahwa kamar peserta ada di depan mereka, tetapi tempat pendaftaran ada di gedung lain. Teman saya mengatakan, “Pak, tolong masukkan kopor kami ke dalam gedung kamar sementara kami akan mendaftar.” Tanpa banyak tanya lagi mereka pergi untuk mendaftar dan setelah itu memasuki gedung tempat kamar berada dan kopor mereka telah berada di pintu masuk gedung tersebut. Seperti biasa, retret dimulai dengan misa, dan ketika pastur memasuki ruangan, alangkah kagetnya teman saya ketika melihat bahwa pastur yang berjubah dengan berwibawa tersebut adalah bapak tua tadi yang dia minta untuk membawakan kopornya.

Bapak dan Ibu yang dikasihi Tuhan, bacaan hari ini menyatakan kegagalan orang Farisi untuk mengenali Yohanes Pembaptis sebagai Elia baru yang mempersiapkan jalan kedatangan Mesias dengan mempertobatkan orang-orang. Kegagalan mereka karena tiga hal utama.

Yang pertama adalah karena mereka merasa sudah tahu segala Kitab Taurat dan bersikukuh untuk membaca secara harafiah atau yang tertulis saja, tanpa melihat bahwa Allah dapat mewujudkan segala nubuat para nabi dengan cara yang berbeda. Jadi mereka mengharapkan Elia hadir kembali, persis dalam wujud Elia yang sama. Ini juga yang menjadi salah satu alasan yang membuat mereka tetap menantikan kedatangan Mesias sampai sekarang, sungguh penantian yang panjang dan sia sia.

Yang kedua karena mereka menilai Yohanes Pembaptis dengan menggunakan ukuran mereka sendiri, sehingga mereka tidak bisa melihat Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi Yesus dengan Roh dan Kuasa sama yang dimiliki oleh Elia.

Yang ketiga, karena mereka tidak menerima kehadiran Yesus karena dirasakan sebagai ancaman bagi kehidupan nyaman mereka dengan segala atribut dunia yang mereka banggakan. Jadi segala kebenaran dan mukjizat yang dibuat oleh Yesus tidak mengubah pandangan mereka karena pada dasarnya mereka telah membuat keputusan untuk menolak Yesus.

Bacaan Injil ini mengajak kita untuk mengenal kehadiran Elia baru dalam diri Yohanes Pembaptis yang mengajak kita untuk bertobat, membenahi diri sehingga layak menyambut kehadiran Yesus. Dalam dunia moderen seperti sekarang ini, selain melalui Gereja-Nya yang satu, ajakan untuk bertobat dapat datang dari mana saja, baik dari teman, kerabat, melalui berbagai sarana yang ada. Kita diajak untuk  mengubah hati kita menjadi bersih, sukacita dan damai bukan saja pada Natal yang akan kita rayakan beberapa saat lagi, tetapi pada  setiap saat dalam hidup kita, bahkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Kita diharapkan peka mengenali ajakan-ajakan untuk bertobat karena Allah tak henti-hentinya menginginkan kita untuk kembali mendekat kepada-Nya.

Marilah berdoa: Ya Allah Bapa Yang Maha Rahim, tak henti-hentinya kami bersyukur atas segala tanda dan sarana yang disediakan bagi kami untuk membersihkan hati kami dari segala dosa melalui Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi. Tuntunlah dan bukalah hati kami agar dengan rendah hati mau menerima perdamaian yang Kau tawarkan sendiri kepada kami, sehingga kami layak dan pantas menyambut kedatangan Yesus Sang Juru Selamat kami. Amin. [LSL]