Iman Sumber Ketaatan

Renungan Minggu 27 Desember 2020

Bacaan: Kej. 15:1-6; 21:1-3Mzm. 105:1b-2,3-4,5-6,8-9Ibr. 11:8,11-12,17-19Luk. 2:22-40

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal. (Ibrani 11:17)

Semua orang percaya mengetahui pasti bahwa kunci untuk mengalami berkat, kemenangan dan terobosan-terobosan dalam hidup adalah taat. Taat berarti setia melakukan apa yang Tuhan kehendaki seperti Yesus, yang taat melakukan kehendak Bapa:  “…janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39) dan Yesus juga mengatakan, “…sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” (Yohanes 5:30b). Bahkan Alkitab menegaskan bahwa Yesus “…taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8).

Jadi ketaatan adalah masalah yang tidak asing lagi bagi kita tetapi merupakan suatu hal yang paling sulit untuk dilakukan, apalagi bila harus menaati sesuatu yang tidak kita sukai, tidak masuk akal atau bertentangan dengan keinginan dan harapan kita. Sebagai contoh adalah Abraham yang diperintahkan Tuhan untuk mempersembahkan anak semata wayangnya, Ishak, sebagai korban persembahan. Menurut pikiran manusia, permintaan Tuhan sangat tidak masuk akal dan tidak pernah terbayangkan oleh Abraham sebelumnya. Meskipun demikian Abraham mengerjakan apa yang Tuhan mau dengan penuh semangat dan tanpa keterpaksaan. Tertulis: “Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.” (Kejadian 22:3). Hal ini menunjukkan bahwa Abraham taat kepada Tuhan sepenuhnya tanpa ada bantahan atau argumentasi sedikit pun. Hati Abraham begitu bersukacita dalam menjalankan perintah Tuhan, sulit atau mudah, sesuai dengan harapan atau tidak. Intinya, Abraham hanya punya satu tujuan yaitu taat kepada Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. AbrahaM taat tanpa mengajukan syarat apa pun. Yang menjadi fokus utamanya adalah pribadi Tuhan, bukan pada apa yang telah ia miliki atau berkat yang telah ia terima dari Tuhan. Abraham benar-benar mengetahui bahwa ketika ia taat menjalankan perintah Tuhan, hal-hal yang luar biasa di luar pemikirannya, disediakan Tuhan baginya.

Doa:

Tuhan, berikan kepadaku iman seperti Abraham yang tidak goyah sedikit pun dalam menghadapi pencobaan. Roh kudus berikan aku kekuatan agar aku boleh percaya akan janji-janji-Mu yang adalah ya dan amin. Bimbing aku untuk tetap taat dan setia kepada Tuhan dalam menjalani proses kehidupan yang saya alami saat ini. Demi Yesus pengantara kami. Amin. (JH)