Engkaukah?

Renungan Rabu 16 Desember 2020 – Hari Biasa Pekan III Adven

Bacaan: Yes. 45:6b-8,18,21b-25; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 7:19-23.

ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Lukas 7:19)

Pertanyaan Yohanes menarik sekaligus ironis, menarik karena Yohanes adalah utusan Allah yang mendahului Yesus Kristus, bahkan Yesus mengatakan, Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis.” (Matius 11:11a), ironisnya adalah justru Yohanes seolah ragu sehingga menyuruh orang bertanya kepada Tuhan, Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain.

Jawaban Tuhan kepada Yohanes membuat kita semua dibawa pada bukti yang seharusnya mengenyahkan segala keraguan kita, “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. (Lukas 7:22). Belum cukupkah bukti sehingga kita meragukan-Nya?

Saya ingat betapa sering saya bertanya, “Engkaukah yang akan menyelamatkanku dan membawaku pada keselamatan?” Sementara saya seolah buta, tuli dan lumpuh bahkan mati karena tidak menyadari bahwa sejak dilahirkan hingga setengah abad usia saya, Tuhanlah yang memelihara kehidupan saya, ketika saya luka penuh air mata, Ia setia membalut luka dan membasuh setiap tetes air mata saya, ketika saya ditinggalkan bahkan oleh orang yang mencintai saya, Ia bersama saya menemani sementara saya sibuk mengasihani diri sendiri.

Ia memulihkan hati dan jiwa saya sehingga ada pengampunan dan sukacita, menjadi berkat dalam keluarga saya. Ya Tuhan, mohon belas kasih pengampunan-Mu, saya sungguh menyesal bertanya dan bertanya tanpa pernah merasa semua bukti yang sudah saya alami. Saya belum sabar dalam derita padahal Engkau selalu bersama saya, saya belum kuat dalam pencobaan padahal Engkau menopang, semua karena saya masih mengandalkan kekuatan saya sendiri, yang sungguh terbatas. Dalam keterbatasan, saya tidak mampu melihat Engkau namun dalam ketidakterbatasan-Mu Engkau menyatakan kehadiran-Mu dalam hidupku.

Doa

Tuhan, puji syukur hanya bagi-Mu. Terima kasih untuk firman-Mu yang menegur keraguan dan keterbatasanku. Dalam keterbatasanku seringkali kubertanya, Engkaukah? Sekalipun dalam keyakinan pun aku percaya Engkaulah satu-satunya dan tiada seorang lain yang bisa menggantikan-Mu, sudilah mengampuni keterbatasanku. Apapun yang kualami dalam hidup ini telah Engkau rancang dengan baik dan indah, ajarilah aku untuk bertekun dalam pengharapan dan setia dalam bersaksi bahwa Engkaulah sang Juru Selamat manusia yang dinantikan dulu, sekarang dan sampai selamanya. Amin. (VDL)