Yesus Menangisi Kita

Renungan Kamis 19 November 2020, Hari Biasa.

Bacaan: Why. 5:1-10; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a,9b; Luk. 19:41-44.

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” (Lukas 19:41-42)

Mengapa, dan kapan saja Yesus menangis? Jika kita meneliti kisah hidup Yesus, kita akan mendapati setidaknya ada tiga peristiwa saat Yesus menangis. Pertama, tentu saja ketika Dia dilahirkan sebagai bayi, demi menjadi manusia yang sama seperti kita. Kedua, Yesus menangis saat Lazarus meninggal dan diratapi oleh orang-orang terkasihnya (Yohanes 11:33-35). Ketiga, dalam bacaan hari ini.​

Peringatan itu tentu juga berlaku bagi kita semua. Betapa kasih karunia yang telah ditawarkan kepada kita dalam hidup ini menjadi sia-sia, karena kita tidak mampu memahami bahwa Allah telah melawati kita dalam kehidupan kita di dunia ini.

Apakah Yesus Kristus tidak menangisi kita juga? Apakah kita masih mau mengecewakan Yesus seperti itu? Apa yang perlu kita perhatikan? Ada hikmat yang mendalam dalam kisah itu, yakni bahwa Anak Allah menaruh hati pada kehidupan kita yang pantas diratapi. Tentu ratap tangis itu bukan ratap tangis keputusasaan, melainkan tanda belarasa dan setia kawan yang mendalam. Dengan ratapan itu diharapkan rasa pilu masih bisa muncul dari hati yang keras. Hati yang baru bisa muncul karena rindu akan kebaikan dan pembaruan dari kita.

Mengapa dan kapan saja kita menangis? Apakah kita lebih banyak menangis karena dan bagi diri sendiri? Apakah saat kita merasa “sakit”, kehilangan, dirugikan, dan lain sebagainya? Di saat pandemi karena virus Covid-19, kita semua dipaksa masuk dalam keadaan ‘New Normal’ atau kebiasaan baru, cara baru, hobi baru, pekerjaan baru, semua serba baru, termasuk juga cara ibadah baru. Dulu apabila hari Minggu tidak ke gereja (merayakan Ekaristi) itu dosa dan kita harus mengaku dosa. Tetapi sekararang di saat pandemi kita harus puas dengan ‘Misa Online’ dengan menerima Komuni Batin, terutama anak-anak dan lansia di atas usia 60 tahun, tidak bisa atau tidak boleh pergi ke gereja.

Semua hal yang serba baru itu sangat tidak nyaman, pada awalnya iman saya sempat goyah, saya bertanya-tanya di mana kepedulian Tuhan. Mengapa kita semua anak-anak-Nya harus menderita dan sepertinya Tuhan tidak peduli. Berapa banyak orang yang menderita tidak ada pekerjaan dan tidak ada penghasilan dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyambung hidup. Saya sungguh berdosa, meskipun hanya punya pikiran seperti itu, saya sungguh menyesal, hal inilah yang membuat Yesus menangisi, terutama diri saya yang sempat merasa iman saya goyah.

Di saat pandemi ini, justru saya merasakan penyertaan Tuhan sungguh luar biasa dalam setiap usaha, pekerjaan baru dan relasi dalam keluarga. Saya sungguh merasakan mukjizat Tuhan hadir di dalam setiap pergumulan. Tanpa penyertaan Tuhan Yesus tidak mungkin saya bisa bertahan dan berkembang di masa yang sulit ini. Saya percaya setiap kita yang percaya Yesus sebagai Juru Selamat pasti dapat bertahan bahkan bisa berkembang dengan berbagai cara.

Yesus menangis karena manusia berdosa terpisah jauh dari Bapa yang sangat mengasihi mereka. Mereka tidak juga mengerti bahwa jalan untuk kembali kepada Bapa dan kemuliaan-Nya sudah dijembatani oleh-Nya.

Apakah hati kita juga menangis melihat jiwa-jiwa yang sesat? Maukah kita terus mendoakan, memperhatikan, dan menyampaikan berita keselamatan-Nya, agar mereka tidak menangisi keadaan pandemi ini sebagai musibah, tetapi memandangnya sebagai berkat untuk bangkit dan semakin mencintai Yesus sebagai Juru Selamat agar mereka tidak masuk dalam kebinasaan kekal?

Doa  

Tuhan Yesus, seringkali aku mengecewakan cinta-Mu sehingga membuat-Mu sedih, dan tolonglah aku untuk semakin mencintai-Mu dan mengarahkan hidupku sebagai pelaku firman dan mewartakan injil dalam kehidupanku sehari-hari. Amin.

Tuhan Yesus memberkati. (SWK)