Yesus Lebih Utama

Renungan Rabu 4 November 2020

Bacaan: Flp. 2:12-18Mzm. 27:1,4,13-14Luk. 14:25-33

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk. 14: 26)

Firman Tuhan hari ini mengingatkan saya akan satu ayat yang dahulu sering salah saya pahami. Seolah-olah Yesus mengajarkan kepada saya untuk membenci anggota keluarga saya. Namun ketika di kelas pemuridan, di pengajaran mengenai harga yang harus dibayar oleh seorang murid, saya mendapat menjelasan yang luar biasa.

Menjadi murid Yesus adalah mengasihi Yesus lebih utama daripada ikatan hubungan keluarga dan bahkan nyawa sendiri. Kasih kepada Yesus harus nomor satu dari apapun juga. Kata membenci tidak boleh diartikan Yesus mengajarkan kebencian kepada anggota keluarga, tetapi ungkapan membandingkan, yang mengandung arti “to love less”; tidak mengasihi bapak atau ibunya lebih daripada mengasihi Yesus. Ini adalah tentang prioritas, siapa yang diutamakan, kepada siapa kita harus lebih setia.

Buah yang saya peroleh ketika saya mengutamakan Tuhan Yesus Kristus dalam hidup saya, ketika saya menyediakan waktu untuk berelasi dengan-Nya adalah kebebasan batin dan Kuasa Kerajaan (Pelajaran Misi Evangelisasi bab 4 – Kerajaan dan Keselamatan).

Salah satu kebebasan batin yang saya alami sekarang ini adalah karena saya dimampukan untuk mengampuni seseorang yang terdekat dalam hidup saya, dalam keluarga saya, yang telah menggoreskan luka yang dalam di hati saya.

Karena Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengasihi saya, karena Ia tidak pernah berhenti menarik saya untuk terus melekat kepada-Nya, maka sekarang, saya pun dapat mengasihinya dan menerima dirinya apa adanya. Dan karena saya mampu mengasihinya kembali, maka sekarang pun saya mampu terus mendoakannya agar suatu saat ia dapat kembali mencintai Tuhan Yesus dan menghadiri perayaan Ekaristi.

Terima kasih Tuhan Yesus untuk firman-Mu pada hari ini, yang mendorong diri saya untuk lebih mengutamakan Engkau di dalam kehidupan saya. Ajar, bimbing dan tarik terus diri saya untuk berelasi dan melekatkan kepada-Mu, sehingga di dalam keadaan apapun juga saya dapat terus membagikan kasih-Mu melalui perkataan dan perbuatan saya, kepada banyak orang, teristimewa kepada orang yang terdekat dengan kehidupan saya. Amin. (SET)