Sembuh Oleh Iman

Renungan Senin 16 November 2020

Bacaan: Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 18:35-43.

Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. (Lukas 18:43)

Perikop tentang orang buta yang disembuhkan ini merupakan salah satu kisah tentang iman, harapan dan berujung kasih. Pengemis buta yang mengemis di pinggir jalan ini adalah sosok yang berjuang dalam kegelapan. Ia menantikan hari pembebasan dari kegelapannya.

Tentunya dia sudah mendengar berita hal ihwal mengenai Yesus dari Nazaret. Maka ketika Yesus lewat, serentak ia berteriak: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.” Anak Daud menjadi gelar mesianis yang diberikan bagi Yesus oleh orang-orang sezaman-Nya. Ia percaya bahwa Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan matanya. Teriakannya ini menunjukkan betapa besar iman dan harapannya. Matanya buta tapi hatinya tidak buta. Ia mampu melihat Tuhan berkarya. Walau dihalang-halangi dan dimarahi, ia tetap berseru dan seruannya menggugah hati Yesus. “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Ia sembuh. Si buta yang dalam Injil Markus disebut Bartimeus ini tidak hanya mengalami kesembuhan badaniah, tetapi ia juga melewati proses tranformasi iman yang memungkinkan melihat kasih Allah yang hadir dalam diri Yesus.  Karunia kebebasan dari kegelapan  membuat  hatinya meluap dengan ucapan syukur dan terbuka pada kehendak Allah  yaitu mengikut Yesus sang Juru Selamat.

Iman yang besar memang selalu menjadi lahan subur bagi bertumbuhnya mukjizat, dan mukjizat menjadi tanda kuasa Allah yang menumbuhkan pengakuan lebih banyak orang akan kemuliaan-Nya. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah (Lukas 18:43).

Dalam kisah ini kita diajak belajar bahwa pengalaman ini memberi inspirasi:

Pertama: Agar kita tidak ragu  berseru kepada Tuhan Yesus dalam arti dalam hidup ini selalu ada relasi dengan Tuhan.

Kedua: Selalu bersyukur, mengakui bahwa hidup ini adalah semata-mata hanyalah karena kasih karunia-Nya dan ini membuahkan jiwa kita senantiasa menaikan puji-pujian memuliakan-Nya.

Ketiga: Yang tak kalah penting kita pun dapat menjadi penghalang karena sikap perilaku kita. Bila kita cermati di sekitar kita banyak umat Katolik yang masih percaya pada kekuatan lain untuk segala sesuatu yang mereka butuhkan: kekayaan, keselamatan, kesehatan, jabatan dan sebagainya.  

Oleh karena itu menjadi pertanyaan bagi masing-masing kita sebagai murid Kristus:

Apakah transformasi iman sudah mengubah hidup saya sehingga dapat mendorong orang di lingkungan saya untuk percaya hanya pada kuasa dan kasih Kristus?                                                                           

Atau apakah justru saya menghalangi mereka yang berkehendak berjumpa secara pribadi dengan Tuhan disebabkan perkataan dan perbuatan saya yang tidak mencerminkan kebenaran firman-Nya?

Doa

Tuhan Yesus, orang buta saja dapat melihat bahwa Engkau Mesias. Aku mohon tuntunan Roh Kudus untuk membuka mataku agar aku dapat melihat Engkau dalam keseharianku dan mengubah hidupku agar aku tidak menghalangi sesamaku untuk berjumpa dengan-Mu. Amin. (LKME)