Rumah Doa

Renungan Jumat 20 November 2020, Hari Biasa.

Bacaan: Why. 10:8-11; Mzm. 119:14,24,72,103,111,131; Luk. 19:45-48.

“Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” ( Lukas 19:46)  

Dalam sebuah pertemuan, ada beberapa orang yang mengajukan pertanyaan kepada saya: ”Bu, bagaimana caranya supaya dapat mendengarkan suara Tuhan?” Mendengar pertanyaan ini, saya diam sejenak, kemudian berkata kepadanya: “Apakah ibu dan bapak pernah mengalami menginginkan sesuatu tetapi belum disampaikan ke suami atau istri tetapi tiba-tiba suami ibu atau istri bapak sudah menyediakan atau memenuhi keinginan tersebut?” Mereka hampir bersamaan mengatakan ya. Nah, mengapa hal ini bisa terjadi? Mereka diam sejenak, kemudian berkata “Ada kesatuan hati dan ikatan batin yang kuat di antara kami sehingga ‘nyetrum’ (istilah mereka). Apa yang kami pikirkan atau inginkan tiba-tiba saja suami atau istri menyediakan.”

Dalam contoh tersebut, kita bisa memahami bahwa kerendahan hati untuk meninggalkan egoisme kemudian menyesuaikan diri dengan pola pikir dan kehendak suami atau istri dapat meningkatkan relasi suami dan istri semakin mesra, hingga tanpa meminta pun pasangan suami istri dapat menyediakan sesuatu yang dirindukan pasangannya. Demikian pula dengan Tuhan, Ia sudah lebih dulu menyesuaikan Diri dengan turun ke bumi menjadi manusia, melakukan segala aktivitas seperti manusia bersama manusia, hanya Dia tidak berbuat dosa, Dia beribadah, mengajar dan  menyembuhkan banyak orang di Bait Allah.

Dalam Perjanjian Baru, ada dua pengertian “Bait Allah”. Pertama, Bait Allah sama dengan Rumah Allah yang merupakan gedung gereja. Gedung gereja adalah simbol gereja (orang-orang yang percaya kepada Kristus). Kristus adalah kepala gereja. Gereja merupakan tubuh mistik Kristus, dan Kristus adalah kepala gereja. Dengan demikian, Tuhan punya kerinduan bahwa “Rumah-Nya” tempat Dia bertahta, tempat umat-Nya berdoa, sebagai rumah doa, tempat beribadah, tempat perayaan Ekaristi bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus, sekaligus menjadi simbol kehadiran Allah dalam diri Kristus dalam bentuk Hosti sebagai kepala gereja. Ketika dengan rendah hati kita mau menyesuaikan diri dengan kerinduan dan harapan Tuhan, kita akan berusaha mewujudkan kerinduan Tuhan tersebut. Bagaimana caranya? Dengan taat dan setia merawat dan menjaga kekudusan Rumah Allah, bukan untuk berteduh saat musim hujan, tidak untuk transaksi bisnis maupun untuk duduk-duduk sambil ‘chating’ menunggu teman atau anggota keluarga.

Kedua, tubuh atau badan kita sebagai Bait Allah di mana Roh Kudus bertahta dan diam di dalam diri kita seperti yang dikatakan Santo Paulus “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” (1 Kor 3:16-17).

Menyadari bahwa tubuh ini tempat bertahtanya Allah, maka menjaga tubuh tetap kudus, menjauhkan diri dari hal-hal yang menajiskan, menjaga kesehatan tubuh dengan makan makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman, olahraga sesuai dengan kebutuhan merupakan keharusan yang dilakukan secara terus menerus. Ketika tubuh kita bersih dan kudus, dengan tenang kita membangun kepekaan dalam mendengarkan suara Roh Kudus dan lebih cepat tanggap terhadap kehendak Allah Bapa.

Syukur dan terima kasih Tuhan, Engkau mengingatkan kami untuk tetap menjaga kekudusan tubuh jiwa kami dan kekudusan Gereja sebagai sarana kami membangun relasi dengan Engkau dan dengan sesama kami hingga kami boleh menerima janji Kristus yang menyelamatkan kami. Amin. ECMW