Bendahara Yang Tidak Jujur

Renungan Jumat 6 November 2020, Hari Biasa

Bacaan: Flp. 3:17-4:1; Mzm. 122:1-2,3-4a.4b-5; Luk. 16:1-8.

Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: “Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.” (Lukas 16:2)

Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan saya pada seseorang yang menyalahgunakan kepercayaan atau jabatan sebagai koordinator. Pada saat itu saya juga ikut jengkel dan membicarakan kejelekannya dengan hati yang marah bahkan ada keinginan agar kepengurusannya dibubarkan.

Saat saya kembali merenungkan firman Tuhan hari ini, sebenarnya saya tidak jauh berbeda dengannya. Saya yang dipercayai sebagai bendahara dari orang yang paling kaya dan berkuasa untuk selama-lamanya, yaitu Tuhan Yesus, tetapi sering saya menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan. Saya sering gagal dalam mengemban tugas untuk menjadi bendahara yang baik. Karena pada prinsipnya, seorang bendahara mengatur sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.

Dari perikop ini kita tahu, ketika orang kaya itu melihat (curiga) bahwa bendaharanya menghambur-hamburkan miliknya, orang kaya itu memanggil bendahara itu untuk mengaudit pembukuannya.

Bendahara itu tahu, bahwa tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya adalah benar, bahwa ia telah korupsi dan sekarang ia kebingungan tidak bisa mempertanggungjawabkan uang yang sudah ia korupsi dan mengembalikan kepada tuannya.

Maka untuk menyelamatkan diri, dia membuat suatu siasat, yaitu dengan membuat para debitur yang berhutang kepada tuannya itu menjadi berhutang kepada bendahara itu, dengan cara membebaskan sebagian nilai dari hutang-hutangnya dan membuat surat hutang baru yang nilainya lebih kecil dari jumlah hutang yang sebenarnya. Dengan demikian debitur itu tentu saja berhutang budi kepadanya. Namun hal ini sama sekali tidak merugikan Sang Bendahara, sebab yang dia perlukan adalah surat bukti hutangnya, yang nantinya akan dilaporkan kepada tuannya. Hal ini perlu sekali jika nanti tuan itu mempertanyakan ke mana larinya uangnya itu. Sementara di pihak debitur, akan dengan senang hati membuat surat hutang baru yang sudah dikurangi/didiskon atas ‘kemurahan’ bendahara ini. Inilah kebiasaan–kebiasaan yang ada dalam kehidupan kita.

Melalui perumpamaan “bendahara yang tidak jujur,” Tuhan Yesus mengajarkan kita bahwa masih banyak dari kita yang mengutamakan budaya, tradisi atau kebiasaan yang salah atau tidak benar daripada menerapkan firman Tuhan. Kebiasaan-kebiasaan yang tertanam di mana telah dijalankan secara turun temurun menjadi lebih berharga dan berarti nilainya daripada nilai-nilai yang ada dalam firman Tuhan, bahkan tidak berani melawannya. Maka itu kita harus berhati-hati jangan sampai terjebak dengan kebiasaan-kebiasaan yang salah atau tidak benar, karena dengan demikian kita belum dibebaskan oleh firman-Nya.

Sebagai anak-anak terang, kita tidak hanya sekedar mementingkan perkara duniawi dengan segala hal di dalamnya, tetapi mengutamakan keselamatan dan hidup abadi bersama Yesus, maka dibutuhkan keteguhan iman dan selalu berpegang pada firman-Nya.

Tuhan Yesus Kristus, tuntunlah hidupku agar aku lebih mengusahakan pertumbuhan hidup bersama-Mu di tengah derasnya arus pesona dunia ini. Semoga melalui rahmat-Mu aku dapat menjadi tanda kehadiran-Mu yang menjadi berkat bagi sesama. Amin. (SWW)