Penyerahan Total

Renungan Minggu 4 Oktober 2020, Hari Minggu biasa XXVII, Pesta St. Fransiskus Asisi

Bacaan: Yes. 5:1-7Mzm. 80:9,12,13-14,15-16,19-20Flp. 4:6-9Mat. 21:33-43

Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Matius 21:43)

Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus menceritakan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur, yang melambangkan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Allah telah mengutus nabi-nabi dan akhirnya mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan Israel, tetapi mereka menolak, bahkan membunuh nabi-nabi dan akhirnya Mesias, Putra Allah, yang sudah dijanjikan. Penolakan Israel, membuka pintu keselamatan untuk semua bangsa, untuk semua orang yang percaya kepada Kristus.

Jika pewartaan Injil dan keselamatan yang dibawakan Tuhan Yesus bisa mengalami penolakan, maka tidak heran bila pewartaan dan pelayanan murid-murid Kristus bisa mengalami hal yang sama, “seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya” (Mat. 10:24). Jika Sang Guru Ilahi memilih jalan salib di dunia ini, maka para murid-Nya juga harus melalui jalan yang sama.

Demikian juga dengan St. Fransiskus Assisi yang pestanya dirayakan setiap 4 Oktober ini. Bagaimana menjelang akhir hidupnya, dia menghadapi realitas perpecahan pada ordo yang Tuhan percayakan dia dirikan. Ada kelompok yang mau tetap menghayati semangat dan cara hidup Fransiskus, tetapi ada juga kelompok yang mau kehidupan yang lebih mapan, dengan tinggal di biara dan berkarya secara tetap.

St. Fransiskus Assisi mengalami pergumulan menghadapi situasi ini, sampai akhirnya dia menyadari, bahwa Allah sanggup mengerjakan yang terbaik menurut kehendak-Nya atas Ordo Fransikan itu. St. Fransiskus menyerahkan semuanya itu secara total kepada Allah. Sesudah menyerahkan diri secara total, St. Fransiskus mengalami pengalaman mistik, dengan menerima luka-luka Kristus (stigmata) pada tubuhnya.

Hal ini juga mengingatkan saya pada akhir hidup orang kudus lainnya, St. Fransiskus Xaverius, seorang misionaris, yang mempunyai kerinduan besar untuk misi ke daratan Tiongkok, tapi kerinduan ini tidak kesampaian, dia hanya sampai di pulau Shangchuan di pinggiran Tiongkok. Pada waktu menanti kapal yang akan membawanya ke daratan Tiongkok, St. Fransiskus Xaverius menghembuskan nafas terakhirnya.

Secara manusiawi melihat pengalaman dua Fransiskus ini menjelang akhir hidupnya, dapat kita lihat pekerjaan yang belum selesai, atau juga menghadapi permasalahan dan salib. Tetapi dalam terang iman, dapat kita lihat bahwa semua yang mereka lakukan bukanlah pekerjaan manusia, tetapi pekerjaan Tuhan. Maka bila Tuhan memulai pekerjaannya melalui mereka, maka Tuhan dapat melanjutkan pekerjaannya melalui orang-orang lain, Tuhan dapat memakai siapa saja. Amin. (ET).