Cangkir atau Isi

Renungan Selasa 13 Oktober 2020

Bacaan: Gal. 4:31b-5:6Mzm. 119:41,43,44,45,47,48Luk. 11:37-41

Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.” (Lukas 11:39)

Ada sebuah kisah tentang beberapa alumnus dari perguruan tinggi yang terkenal sedang  mengadakan reuni kecil dengan professor mereka. Ketika mereka bertemu dan mulai bercerita, yang terdengar dari mereka adalah kekhawatiran, kesulitan hidup, tantangan pekerjaan yang berat dan berbagai macam-macam keluhan. Saat sedang ramai mendengar keluh kesah mereka, professor tersebut menawarkan apakah mereka mau kopi. Serempak mereka mengatakan bahwa mereka mau. Professor tersebut kemudian menyiapkan kopi dan membawa teko berisi kopi dan bermacam-macam cangkir kopi, ada yang dari porselin yang indah, cangkir dari kaca, dari kristal yang indah dan ada juga cangkir dari kertas. Mereka disuruh mengambil kopinya masing-masing. Mereka mengambil cangkir yang indah, yang dari porselin, kaca, kristal, dan yang tertinggal adalah cangkir kertas. Melihat itu professornya memberikan wejangan inilah kita sebagai manusia selalu berusaha untuk mengambil yang terbaik untuk diri kita. Kita sering lupa bahwa esensi meminum kopi adalah dari rasa kopinya. Kita sering malah berebut dalam memilih cangkirnya. Bahkan sering kita lakukan adalah kadang menutupi juga apa yang kita minum dengan cangkir yang indah.

Dalam bacaan pertama di Galatia 5:5-6 “Sebab oleh Roh dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” Apa yang disampaikan oleh Paulus adalah para pengikut Kristus, mungkin ada yang bersunat ada yang tidak bersunat, tetapi Tuhan tidak melihat semua ciri-ciri fisik tersebut. Tuhan melihat isinya yaitu iman kita. Di bacaan Injil, Yesus juga menegur kaum Farisi kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”. Iman digambarkan dalam ilustrasi cerita di atas seperti kopi dalam secangkir kopi. Cangkir menggambarkan cara kita hidup. Jangan sampai kita hidup hanya menebarkan pesona, hanya memperhatikan penampilan kita tetapi di dalam diri kita banyak rancangan rancangan yang tidak baik.

Definisi iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1). Dalam iman, akal budi dan kehendak manusia bekerja sama dengan rahmat Ilahi (KGK,155). Lebih jauh Santo Thomas mengatakan bahwa ”Iman adalah satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran ilahi atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat”. Jadi iman adalah merupakan operasi intelek atau akal budi, di mana kita bekerja sama dengan rahmat Allah, sehingga kita dapat menjawab panggilan-Nya dan percaya akan apa yang difirmankan-Nya. Namun kepercayaan itu bukan hanya asal percaya, atau percaya berdasarkan perasaan saja. Iman dapat didefinisikan sebagai suatu persetujuan akal budi yang kokoh kepada kebenaran, yang bukan berdasarkan perasaan, tetapi berdasarkan kesaksian saksi.

Oleh karena itu kita harus memiliki iman yang bekerja oleh kasih untuk mengisi hidup kita, jangan sampai kita terlihat dari luar bersih, bagus, mahal, tetapi bagian dalam kita berisi rampasan dan kejahatan. Kalau di dalam diri kita memiliki iman yang bekerja dengan kasih, kita akan percaya semua masalah, persoalan hidup, tutur kata, perbuatan kita akan dapat dirasakan nikmatnya oleh semua orang. Kita tidak perlu bingung dengan penampilan kita, kita tidak perlu bingung dalam menempatkan diri kita, karena kasih akan memancar dari diri kita. Kita akan tetap merasakan enaknya kopi, harumnya kopi meskipun memakai cangkir kertas. Sebagai penutup, professor tersebut berkata bahwa dalam menghadapi kehidupan yang terpenting adalah isi kita, iman kita, dengan iman yang bekerja berdasarkan kasih semua kesulitan hidup, penderitaan pasti akan mampu kita jalani dan atasi.

Doa: Allahku yang kukasihi, hari ini Engkau mengajarkan kepadaku apa yang Kau nilai dalam hidupku. Engkau menilai imanku, Engkau mengajarkan kepadaku untuk memiliki iman yang berdasar atas kasih, sehingga apa yang kulakukan adalah yang terbaik untuk kemuliaan-Mu. Semoga Aku tidak pernah memiliki keinginan memiliki melihat milik orang lain, aku tidak akan memiliki kesombongan dengan apa yang aku punyai, tetapi aku berani dengan kasih untuk membagi apa yang aku miliki. Ya Tuhan Aku selalu berdoa dan berharap agar aku selalu Kau tambahkan imanku. Sehingga hidupku semakin hari semakin dapat memancarkan kasih-Mu kepada sesama. Semua doa dan pengharapanku kupanjatkan dengan perantaraan Putra-Mu yang terkasih Tuhan kami Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin (AlX)